Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan jajaran kabinet untuk memprioritaskan proyek pembangunan yang berorientasi pada produktivitas dan penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat. Kebijakan tersebut disampaikan saat menghadiri panen raya udang di kawasan Budi Daya Udang Berbasis Kawasan (BUBK) Kebumen, Jawa Tengah, pada Sabtu (23/5/2026).
Penundaan pembangunan gedung atau kantor mewah milik pemerintah menjadi langkah tegas yang diambil demi mengalihkan anggaran pada program dengan nilai tambah ekonomi, seperti dilansir dari Detik Finance. Penyerapan tenaga kerja secara langsung menjadi indikator utama dalam penentuan proyek yang akan didukung oleh pemerintah.
"Semua yang produktif akan kita jalankan. Produktif artinya harus menghasilkan nilai tambah. Saya kasih petunjuk ke kabinet, yang boleh kita dukung, yang harus kita dukung, yang harus kita jalankan adalah proyek-proyek yang produktif. Produktif apa? Menciptakan lapangan kerja untuk rakyat kita," kata Prabowo, disiarkan YouTube Sekretariat Presiden, Sabtu (23/5/2026).
Penghentian sementara proyek perkantoran baru dinilai perlu karena efektivitas hasil jauh lebih penting daripada kemegahan fasilitas. Menurut Presiden, tingkat produktivitas yang rendah hanya akan membuat pembangunan gedung menjadi sia-sia di tengah kebutuhan lapangan kerja.
"Jadi maaf, kita sekarang agak tunda lah bangun banyak kantor, kantor, kantor. Kantor itu ya perlu tapi jangan ada kantor, nggak ada produktivitas. Iya kan? Kantor megah, produknya nggak ada. Lebih baik kantornya tidak begitu bagus, tapi produknya bagus, hasilnya banyak, penghasilan untuk rakyat banyak. Rakyat kita butuh pekerjaan," tegas Prabowo.
Keberhasilan pengelolaan tambak udang di Kebumen menjadi salah satu contoh proyek produktif yang disoroti oleh Kepala Negara. Fasilitas budi daya seluas 64 hektare tersebut tercatat mampu memproduksi 40 ton udang per hektare dengan harga jual mencapai Rp 70 ribu per kilogram, serta menyerap 650 pekerja lokal.
Pemerintah kini bersiap mempercepat proses replikasi proyek serupa di sejumlah wilayah guna mendongkrak produksi protein nasional dan menambah devisa melalui jalur ekspor. Rencana perluasan mencakup area di Waingapu seluas 2.000 hektare, Gorontalo seluas 200 hektare, hingga koridor Pantura Jawa Barat yang ditargetkan mencapai 14.000 hektare.
"Kita akan bangun proyek-proyek produktif yang menghasilkan protein untuk rakyat kita dan juga untuk jual ke luar negeri. Supaya kita bisa dapat devisa. Saya kira nanti dalam bulan-bulan yang akan datang kita akan mempercepat proses pembangunan yang produktif," tutup Prabowo.