Presiden RI Prabowo Subianto baru-baru ini melontarkan pernyataan menohok terkait jebloknya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS). Di tengah kekhawatiran publik karena Rupiah nyungsep hingga ke level Rp17.600 per USD, Prabowo Subianto justru santai dan menilai masyarakat pedesaan tidak akan terkena dampak langsung.
Namun seperti diberitakan oleh Suara, berdasarkan analisis dari laman UGM dan sumber lainnya, dampak pelemahan kurs tetap menghantui dapur hingga sawah warga desa melalui rantai pasok global. Meskipun warga desa tidak memakai dolar untuk transaksi sehari-hari, fluktuasi dolar ini memicu biaya operasional yang nyata.
Dampak pertama yang membayangi sektor pedesaan adalah biaya tani yang makin mencekik. Meski transaksinya menggunakan Rupiah, bahan baku pupuk dan obat-obatan pertanian banyak yang didatangkan dari luar negeri.
Saat dolar menguat, harga pupuk nonsubsidi di tingkat petani otomatis melonjak. Selain itu, peternak ayam dan sapi di desa juga paling terkena dampaknya karena komponen pakan ternak di Indonesia masih sangat bergantung pada bahan baku impor. Jika harga pakan mahal, harga telur dan daging ikut naik, sementara margin keuntungan peternak makin tipis.
Kenaikan Harga Sembako dan Biaya Logistik Desa
Pelemahan kurs Rupiah juga memicu kenaikan sembako di pasar-pasar desa. Harga gula, minyak goreng, hingga terigu di pasar desa sangat dipengaruhi oleh harga internasional, sehingga memicu inflasi yang bikin daya beli warga desa merosot.
Dolar yang kuat membuat biaya energi global membengkak, yang berdampak pada ongkos pengiriman barang dari kota ke desa yang ikut naik. Akibatnya, barang-barang kelontong yang dijual di warung-warung desa bakal lebih mahal dibandingkan di kota karena ada tambahan biaya logistik yang terimbas kurs.
Fasilitas Umum dan Ancaman Gulung Tikar UMKM
Fasilitas kesehatan dan pendidikan di pedesaan turut terancam karena alat kesehatan di Puskesmas hingga buku-buku sekolah seringkali mengandung komponen impor. Jika Rupiah melemah, anggaran desa atau pemerintah daerah untuk pengadaan alat medis bisa membengkak, sehingga kualitas layanan kesehatan bagi warga miskin di pelosok bisa terganggu.
Sektor UMKM dan nelayan di desa juga menghadapi pembengkakan biaya logistik dan operasional. Nelayan di desa membutuhkan solar dan suku cadang mesin kapal yang banyak di antaranya merupakan barang impor. Kenaikan harga suku cadang akibat dolar yang menggila bisa membuat usaha kecil dan pengrajin di desa yang menggunakan alat bantu mesin terancam gulung tikar.