Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menginstruksikan jajarannya untuk segera melakukan pengerukan sungai sebagai langkah preventif menghadapi ancaman banjir di wilayah ibu kota. Arahan ini disampaikan di Balai Kota DKI Jakarta pada Kamis (7/5/2026) menyusul intensitas hujan tinggi yang melanda meski sedang memasuki periode kemarau.
Langkah mitigasi tersebut diambil lantaran Jakarta masih kerap diguyur hujan deras di tengah prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai El Nino. Dilansir dari Megapolitan, fenomena iklim kering tersebut diperkirakan berlangsung hingga September 2026 mendatang.
"BMKG secara resmi sebenarnya sudah menyampaikan bahwa bulan April akhir sampai dengan September itu akan El Nino," ujar Pramono di Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (7/5/2026).
Gubernur mengungkapkan kekhawatirannya karena hujan lebat masih mengguyur Jakarta dalam beberapa hari terakhir. Catatan curah hujan bahkan menyentuh angka hampir 150 milimeter per hari yang telah memicu genangan di sejumlah titik di wilayah Jakarta.
"Tetapi kenyataannya beberapa kali masih hujan, termasuk yang kemarin dengan curah hujan yang hampir 150 milimeter per hari yang menyebabkan banjir," jelas Pramono.
Guna merespons situasi tersebut, penyiagaan personel dan perangkat daerah menjadi prioritas utama pemerintah daerah saat ini. Pramono telah meminta Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) serta Dinas Sumber Daya Air (SDA) untuk tetap dalam posisi waspada.
"Maka saya sudah memerintahkan kepada jajaran Bappeda, kemudian juga kepada Sumber Daya Air untuk tetap mengantisipasi dan melakukan pengerukan sungai-sungai yang ada supaya kita tidak seperti kemarin," ungkap Pramono.
Ketidakteraturan pola cuaca ini menuntut kewaspadaan ekstra dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Selain faktor alam, Pramono turut menyoroti permasalahan teknis di lapangan seperti penumpukan sampah yang menghalangi laju air di saluran drainase.
"Kemarin memang informasinya sudah El Nino, sudah kering, tapi ternyata hujan. Dan itu menyebabkan beberapa tempat yang sampah dan sebagainya menghambat, and itu yang nggak boleh terjadi lagi," tutur Pramono.