Ekonom Prediksi Bank Indonesia Naikkan Suku Bunga Acuan Mei 2026

Ekonom Prediksi Bank Indonesia Naikkan Suku Bunga Acuan Mei 2026

Bank Indonesia menghadapi tekanan besar untuk menaikkan suku bunga acuan dalam Rapat Dewan Gubernur Mei 2026 akibat gejolak nilai tukar rupiah dan pasar keuangan domestik, dilansir dari Nasional pada Selasa (19/5/2026).

Global Markets Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menjelaskan bahwa prioritas kebijakan bank sentral saat ini telah bergeser untuk memprioritaskan stabilitas mata uang, sehingga ruang peningkatan suku bunga kini terbuka lebar.

"Karena Gubernur BI menyebut sekarang sudah menggeser fokusnya menjadi ke arah pro-stability, ya bisa jadi dia akan langsung melakukan kebijakan kenaikan suku bunga," ujar Myrdal Gunarto, Global Markets Economist Maybank Indonesia.

Langkah pengetatan ini dinilai mampu merangsang kembalinya modal asing ke pasar aset domestik karena menawarkan imbal hasil yang lebih kompetitif bagi para pemodal internasional.

"Itu yang akan membuat likuiditas, terutama dari luar, akan ada yang masuk ke sini. Sehingga tugas BI untuk menjaga stabilitas nilai tukar dengan menyerap likuiditas jadi lebih ringan," kata Myrdal Gunarto, Global Markets Economist Maybank Indonesia.

Kendati demikian, penyesuaian instrumen moneter ini diprediksi membawa konsekuensi negatif terhadap sektor riil karena bisa melonjakkan beban pinjaman korporasi.

"Kalau BI Rate naik itu sudah repot semuanya urusannya. Kemungkinan biaya ekspansi bisnis naik, terus momentum pertumbuhan ekonomi bisa terganggu," ujar Myrdal Gunarto, Global Markets Economist Maybank Indonesia.

Sementara itu, Kepala Ekonom PermataBank Josua Pardede memproyeksikan adanya potensi kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin hingga menyentuh angka 5%.

Proyeksi tindakan penyeimbangan tersebut dirasa mendesak setelah mata uang rupiah melemah ke posisi Rp 17.733 per dolar AS dan tingkat imbal hasil SBN tenor 10 tahun merangkak naik menuju level 6,86%.

"Kenaikan suku bunga dapat memperbaiki daya tarik aset rupiah, membantu menahan arus keluar modal, memperkuat minat investor terhadap SBN dan SRBI, serta mengurangi tekanan inflasi impor," kata Josua Pardede, Kepala Ekonom PermataBank.

Di sisi lain, kebijakan moneter yang ketat berisiko menahan laju intermediasi perbankan serta melemahkan daya beli masyarakat dan investasi pada sektor ekonomi sensitif.

"Dampaknya bisa lebih terasa pada sektor yang sudah lemah seperti UMKM, properti, otomotif, dan industri yang bergantung pada pembiayaan," ujar Josua Pardede, Kepala Ekonom PermataBank.

Berbeda dengan pandangan sebelumnya, Kepala Ekonom Bank Central Asia David Sumual memprediksi otoritas moneter akan mempertahankan BI Rate pada level 4,75% dalam pengumuman hari Rabu (20/5/2026).

David menilai laju kenaikan harga barang di dalam negeri saat ini masih terkendali dan berada di dalam koridor target yang ditetapkan oleh pihak bank sentral.

"Sejauh ini target inflasi masih dalam kisaran proyeksi BI, kecuali ada kenaikan harga BBM bersubsidi dan Pertamax," ujar David Sumual, Kepala Ekonom Bank Central Asia.

Walakin, ia tidak menampik bahwa peningkatan BI Rate tetap memiliki sisi positif dalam memperkuat posisi nilai tukar melalui aliran investasi portofolio asing.

"Manfaatnya aset rupiah ekspektasinya lebih menarik di mata investor asing dan menambah dana inflow," katanya David Sumual, Kepala Ekonom Bank Central Asia.

Meskipun pengetatan moneter berpotensi mengerem penyaluran kredit, David optimistis target pertumbuhan kredit industri perbankan nasional sebesar 11%-13% tetap dapat terealisasi.

"Masih bisa harusnya di 11%-13% kalau hanya naik 25-50 bps," ujarnya David Sumual, Kepala Ekonom Bank Central Asia.

Dari sudut pandang lain, Ekonom Bank Danamon Hosianna Evalita Situmorang memandang penyesuaian suku bunga acuan sebesar 25 basis poin sangat rasional terjadi mengingat tren depresiasi rupiah yang masih berlangsung.

"Naik 25 bps karena pelemahan rupiah," kata Hosianna Evalita Situmorang, Ekonom Bank Danamon.

Namun, Hosianna memperkirakan risiko perlambatan aktivitas ekonomi akibat kebijakan moneter ini dapat diminimalkan melalui intervensi kebijakan fiskal pemerintah yang solid.

"Sejauh ini belum ya karena fiscal support masih lebih kuat dan semoga bisa meng-counter dampak kenaikan suku bunga nantinya," ujarnya Hosianna Evalita Situmorang, Ekonom Bank Danamon.

Artikel terkait

Rekomendasi