Dewan Minyak Sawit Malaysia atau Malaysian Palm Oil Council (MPOC) memproyeksikan harga minyak sawit mentah (CPO) akan bertahan di kisaran RM4.400 per ton sepanjang Juni 2026. Perkiraan ini dipicu oleh meningkatnya risiko cuaca serta ketidakpastian arus perdagangan global minyak nabati.
Dilansir dari InfoSAWIT yang mengutip The Edge Malaysia pada Jumat, 22 Mei 2026, MPOC menyatakan bahwa harga minyak nabati dunia berpotensi kembali menguat. Kenaikan ini terjadi setelah pasar sempat mengalami tekanan akibat aksi ambil untung oleh dana investasi dan spekulan.
Faktor tingginya risiko pasokan global dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik yang belum mereda. Selain itu, potensi munculnya fenomena cuaca turut menjadi perhatian serius yang diperkirakan mengganggu jalannya produksi minyak nabati pada musim mendatang.
"El Niño biasanya membawa kondisi cuaca lebih kering dari normal di Asia Tenggara, mengurangi curah hujan dan kelembapan tanah yang berpotensi memengaruhi pasokan pertanian regional," ungkap MPOC dalam keterangan tertulisnya.
Berdasarkan prakiraan Departemen Meteorologi Malaysia (MET), fenomena alam tersebut diperkirakan mulai berkembang antara Juni hingga Juli 2026. Kondisi kekeringan ini bahkan berpotensi berlangsung hingga awal 2027.
Daya saing minyak sawit juga dinilai semakin membaik menyusul perkembangan sektor biofuel di Amerika Serikat yang mendorong kenaikan harga minyak kedelai di pasar Eropa. Pada pertengahan Mei 2026, harga minyak kedelai di Eropa menyentuh level tertinggi sejak November 2022.
Minyak kedelai dalam periode itu diperdagangkan dengan premi sebesar US$145 per ton dibandingkan minyak rapeseed. Harga tersebut juga tercatat US$110 per ton di atas minyak sawit dan US$45 per ton lebih tinggi dibanding minyak bunga matahari.
Situasi ini menjadikan minyak sawit tetap sebagai komoditas minyak nabati yang paling kompetitif di pasar India. Di sisi lain, olein sawit Malaysia yang diperdagangkan sedikit lebih murah dari minyak kedelai Argentina dinilai mampu menopang permintaan ekspor.
Dari sisi ketersediaan barang, stok minyak sawit Malaysia pada April 2026 mengalami kenaikan tipis menjadi 2,31 juta ton. Kenaikan musiman ini didukung oleh cuaca kering yang membantu kelancaran proses panen serta meningkatkan hasil tandan buah segar (TBS).
Volume ekspor minyak sawit Malaysia sepanjang Januari hingga April 2026 melonjak 25,5 persen secara tahunan menjadi 5,38 juta ton, yang menjadi rekor tertinggi sejak 2019. Namun, pengiriman pada April tercatat turun 14,3 persen secara bulanan menjadi 1,30 juta ton.
Gabungan ekspor dari Malaysia, Indonesia, dan Thailand dilaporkan naik sekitar 1,9 juta ton pada kuartal pertama 2026. Meskipun demikian, MPOC memproyeksikan tren pengiriman tersebut akan berbalik arah pada periode April hingga September 2026.
Berdasarkan data proyeksi Oil World, total ekspor dari tiga negara produsen utama tersebut diperkirakan menyusut sekitar dua juta ton pada kuartal kedua dan ketiga 2026. Penurunan utamanya didorong oleh berkurangnya pasokan dari Indonesia yang mengalihkan produksinya untuk kebutuhan energi domestik.
Selama periode yang sama, volume ekspor Malaysia diproyeksikan naik sekitar 400 ribu ton, sedangkan Indonesia diperkirakan merosot hingga 1,7 juta ton. MPOC memprediksi tidak akan ada lonjakan besar pada stok regional meski memasuki puncak musim produksi.
Secara terpisah, Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) mengestimasi produksi global biji minyak musim 2026/2027 akan mencapai rekor tertinggi baru. Pasokan kedelai diperkirakan melonjak 14 juta ton, bunga matahari naik tujuh juta ton, dan rapeseed bertambah 1,4 juta ton.