Bank Indonesia memproyeksikan adanya peningkatan tekanan inflasi dalam kurun waktu tiga hingga enam bulan ke depan berdasarkan hasil Survei Penjualan Eceran Maret 2026. Lonjakan ekspektasi harga ini diperkirakan terjadi pada Juni dan September 2026 di tengah tren penurunan aktivitas belanja masyarakat.
Data otoritas moneter menunjukkan Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) untuk Juni 2026 melonjak ke angka 175,6 dari posisi 157,4 pada Mei 2026. Sejalan dengan itu, indeks untuk September 2026 juga merangkak naik menjadi 163,2 dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di level 157,2.
Bank sentral menjelaskan bahwa kenaikan beban biaya produksi menjadi faktor utama yang mendorong proyeksi tersebut. Fenomena ini muncul saat momentum musiman seperti Idulfitri 1447 Hijriah telah berakhir, sebagaimana dilansir dari Money.
“Dari sisi harga, tekanan inflasi tiga dan enam bulan yang akan datang, yaitu Juni dan September 2026, diprakirakan meningkat,” tulis bank sentral dalam laporan tersebut.
Pihak Bank Indonesia merinci lebih lanjut bahwa peningkatan biaya perolehan barang menjadi pemicu utama kenaikan indeks harga pada periode pertengahan tahun tersebut.
“Hal ini tecermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Juni dan September 2026 yang tercatat masing-masing sebesar 175,6 dan 163,2, lebih tinggi dibandingkan dengan IEH Mei dan Agustus 2026 yang tercatat masing-masing sebesar 157,4 dan 157,2, didorong oleh kenaikan harga bahan baku,” kata BI.
Kontras dengan kenaikan harga, Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) Juni 2026 justru diprediksi turun ke level 136,8. Penurunan ini dipengaruhi oleh siklus tahunan berupa musim ujian sekolah dan normalisasi kegiatan warga setelah tidak adanya agenda besar nasional.
Realisasi kinerja perdagangan ritel pada Maret 2026 sendiri sebenarnya masih menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan Indeks Penjualan Riil (IPR) sebesar 3,4 persen secara tahunan. Capaian ini ditopang kuat oleh sektor suku cadang, barang rekreasi, serta komoditas makanan dan minuman.
“Pada Maret 2026, IPR tercatat sebesar 256,7. Kinerja tersebut terutama didorong oleh pertumbuhan penjualan pada Kelompok Suku Cadang dan Aksesori, Barang Budaya dan Rekreasi, serta Makanan, Minuman, dan Tembakau secara tahunan,” tulis BI.
Secara bulanan, pertumbuhan pada Maret mencapai 10,3 persen yang dipacu oleh tingginya permintaan selama periode Ramadan dan Lebaran. Namun, angka ini diprediksi akan mengalami koreksi atau penurunan sebesar 10 persen pada April 2026.
“Peningkatan tersebut didukung oleh kinerja penjualan seluruh kelompok, terutama Kelompok Barang Budaya dan Rekreasi, Makanan, Minuman, dan Tembakau, Bahan Bakar Kendaraan Bermotor, serta Subkelompok Sandang, sejalan dengan peningkatan permintaan masyarakat pada periode HBKN Ramadan dan Idul Fitri 1447 H,” terang BI.
Memasuki April 2026, IPR diperkirakan melandai ke angka 231,0 seiring kembalinya pola konsumsi normal masyarakat. Meskipun secara keseluruhan melambat, sektor perlengkapan rumah tangga dan sandang diproyeksikan tetap mampu tumbuh secara tahunan.
“Penjualan eceran diprakirakan terjaga pada April 2026. Indeks Penjualan Riil (IPR) April 2026 diprakirakan sebesar 231,0 didorong tetap tumbuhnya penjualan secara tahunan pada Kelompok Suku Cadang dan Aksesori, Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya, serta Subkelompok Sandang,” tulis BI.
Faktor musiman pasca-hari besar keagamaan menjadi alasan utama di balik proyeksi penurunan volume penjualan di tingkat pengecer tersebut.
“Secara bulanan, penjualan eceran pada April 2026 diprakirakan menurun sebesar -10,0 persen (mtm), dipengaruhi oleh normalisasi permintaan masyarakat setelah periode HBKN Ramadan dan Idul Fitri 1447 H,” ungkap BI.
Secara spasial, Surabaya mencatatkan pertumbuhan ritel tertinggi pada Maret 2026 sebesar 14,5 persen secara tahunan. Namun, kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Makassar diprediksi akan masuk ke zona kontraksi pada April 2026 akibat penurunan permintaan domestik.