Nilai tukar rupiah diprediksi akan terus mengalami tekanan hebat hingga menyentuh level Rp17.550 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pekan ini. Dilansir dari Suara, kondisi pasar uang saat ini menunjukkan tren pelemahan yang signifikan bagi mata uang Garuda.
Pengamat Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, memberikan penilaian bahwa merosotnya nilai tukar rupiah ke titik terendah saat ini masih dalam kategori wajar. Namun, ia memberikan peringatan mengenai potensi koreksi yang lebih dalam dalam waktu dekat.
Saat ini, posisi rupiah sudah berada di atas angka Rp17.400 per dolar AS. Ibrahim memproyeksikan pergerakan mata uang nasional akan terus mencari titik keseimbangan baru yang lebih rendah.
"Rupiah yang mengalami pelemahan sudah di atas Rp 17.400. Target saya sendiri dalam minggu ini adalah di Rp 17.550. Kemungkinan besar, kemungkinan akan tercapai," kata Ibrahim.
Faktor utama yang memicu pelemahan ini adalah memanasnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat dengan Iran. Situasi yang tidak menentu di Timur Tengah mendorong para investor untuk mengalihkan modal mereka ke aset aman atau safe haven.
Selain konflik di Timur Tengah, serangan drone Ukraina terhadap kilang-kilang minyak di wilayah Rusia turut memperburuk keadaan. Aksi militer tersebut menyebabkan gangguan produksi energi yang cukup signifikan di Rusia.
"Kemudian, penyebab lainnya ukraina yang melakukan penyerangan dengan menggunakan drone terhadap wilayah, rusia kilang-kilang minyak dibombardir dan ini mengakibatkan produksi kilang minyak di Rusia ini mengalami penurunan. 10 persen kemungkinan besar ini mengalami penurunan, sehingga ini berdampak terhadap penguatan harga minyak mentah baik grain maupun WTI crude oil," ujar Ibrahim.
Merespons dinamika tersebut, Bank Indonesia (BI) memastikan tetap berada di pasar untuk menjaga mekanisme pasar tetap berjalan kondusif. Langkah ini diambil guna memastikan stabilitas nilai tukar tetap terjaga sesuai dengan nilai fundamentalnya.
Data Bloomberg mencatat mata uang Garuda terus tertekan hingga menyentuh posisi Rp14.437 per dolar AS, yang dianggap sebagai rekor buruk baru bagi pergerakan rupiah. Bank Indonesia terus memantau pergerakan ini secara intensif.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset BI, Erwin Gunawan Hutapea, menjelaskan bahwa fluktuasi rupiah sejak awal konflik di Timur Tengah sebenarnya masih searah dengan tren mata uang di negara berkembang lainnya.
"Pergerakan rupiah sejak awal konflik di Timur Tengah hingga saat ini masih sejalan dengan mayoritas mata uang emerging market lainnya. Philippine peso melemah sebesar 6,58 persen, Thailand baht melemah 5,04 persen, India rupee melemah 4,32 persen, demikian pula dengan Chile peso -4,24 persen Indonesia rupiah -3,65 persen dan Korea won -2,29 persen," kata Erwin.
Guna meredam volatilitas, Bank Indonesia mengoptimalkan berbagai strategi intervensi di pasar valuta asing. Hal ini mencakup transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).
Selain intervensi valas, otoritas moneter juga melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Upaya ini dilakukan secara konsisten untuk memitigasi dampak dari tekanan global yang terus berlanjut terhadap ekonomi domestik.