Risiko ketahanan pangan global semakin nyata seiring dengan proyeksi penurunan produksi gandum dan jagung dunia untuk musim 2026–2027. Kondisi ini diperparah dengan potensi penyusutan hasil panen beras di dalam negeri pada kuartal kedua tahun ini.
Dikutip dari Market, Dewan Biji-bijian Internasional (IGC) memperkirakan total produksi biji-bijian global akan mengalami penurunan hingga 60 juta ton. Meski produksi kedelai diprediksi meningkat, gandum dan jagung justru mengalami tekanan signifikan.
Faktor cuaca ekstrem akibat bayang-bayang El Nino di berbagai pusat produksi utama serta tingginya harga pupuk menjadi pemicu utama. Situasi tersebut berisiko memicu volatilitas harga pangan internasional yang berdampak pada negara importir.
Produksi gandum global diperkirakan menyusut 23,9 juta ton menjadi total 820,8 juta ton. Negara-negara eksportir utama diproyeksi kehilangan produksi secara kolektif sebesar 35,4 juta ton sepanjang musim tersebut.
Amerika Serikat diperkirakan kehilangan 7,2 juta ton produksi, diikuti Uni Eropa sebesar 5,8 juta ton. Sementara itu, Australia dan Kanada masing-masing diproyeksikan mengalami penurunan sebesar 4,2 juta ton dan 3,4 juta ton.
Kekeringan ekstrem selama tiga bulan terakhir di wilayah dataran selatan Amerika Serikat telah menghantam tanaman gandum musim dingin merah keras. Kondisi gandum di Kansas kini hanya 33% yang masuk kategori baik hingga sangat baik.
Australia juga menghadapi tantangan serupa akibat perkembangan El Nino yang sangat cepat. Fenomena ini membawa cuaca yang lebih kering selama masa tanam, ditambah dengan masalah kekurangan pupuk yang memperburuk potensi hasil panen.
Sektor jagung dunia pun tidak luput dari tekanan dengan estimasi penurunan produksi sebesar 24 juta ton menjadi 1,3 miliar ton. Rendahnya prospek harga dan biaya input produksi yang mahal menyebabkan petani mulai mengurangi luas tanam jagung.
Berbeda dengan komoditas lainnya, produksi kedelai dunia justru diproyeksikan naik 13 juta ton menjadi 441 juta ton. Hal ini terjadi karena adanya pergeseran alokasi lahan petani dari tanaman jagung ke kedelai.
Ancaman Penurunan Produksi Beras Nasional
Di sektor domestik, tantangan muncul pada komoditas beras akibat menyusutnya luas panen. Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan produksi beras untuk April–Juni 2026 hanya mencapai 9,61 juta ton.
Angka produksi tersebut menunjukkan penurunan sebesar 0,87 juta ton atau sekitar 8,30% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Luas panen padi juga berkurang menjadi 3,16 juta hektare.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan bahwa realisasi produksi tersebut masih bersifat dinamis. Perubahan angka sangat bergantung pada kondisi aktual pertanaman di lapangan hingga bulan Juni mendatang.
"Risiko yang memengaruhi antara lain serangan hama, organisme pengganggu tanaman, banjir, kekeringan, hingga hambatan saat panen di tingkat petani," kata Ateng Hartono.
Kombinasi antara pengetatan pasokan global dan penurunan produksi dalam negeri menjadi perhatian serius bagi stabilisasi harga pangan. Penurunan produksi beras domestik dapat membatasi ruang pemerintah dalam menjaga harga pasar jika cuaca buruk terus berlanjut.
Lonjakan harga gandum di pasar internasional juga berpotensi membebani industri pangan berbasis terigu di Indonesia. Di sisi lain, merosotnya pasokan jagung dunia dapat memicu kenaikan harga pakan ternak yang berdampak pada sektor peternakan nasional.