Penerbitan Obligasi Korporasi Semester II-2026 Diproyeksi Lebih Rendah

Penerbitan Obligasi Korporasi Semester II-2026 Diproyeksi Lebih Rendah

Prospek penerbitan obligasi korporasi pada semester II-2026 diperkirakan mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi ini dipicu oleh kenaikan suku bunga acuan serta potensi peningkatan yield yang mulai membayangi pasar surat utang, dikutip dari Investasi.

Chief Economist PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), Suhindarto, memproyeksikan aktivitas penerbitan surat utang korporasi pada paruh kedua tahun ini sebenarnya masih relatif ramai. Meski demikian, realisasinya kemungkinan besar tidak akan setinggi pencapaian tahun lalu.

Faktor utama yang menjaga volume penerbitan tetap tinggi adalah besarnya nilai jatuh tempo. Pada semester kedua mendatang, nilai jatuh tempo surat utang korporasi mencapai Rp 107 triliun, melonjak signifikan dari posisi semester I-2026 yang sebesar Rp 55 triliun.

Lonjakan nilai jatuh tempo tersebut mendorong banyak perusahaan untuk kembali masuk ke pasar obligasi. Langkah ini dilakukan guna memenuhi kebutuhan refinancing atau pembiayaan ulang utang mereka.

Namun, arah penerbitan obligasi korporasi ke depan masih dibayangi dampak kenaikan BI Rate sebesar 50 basis poin (bps). Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 19-20 Mei 2026 telah menetapkan kenaikan BI Rate menjadi 5,25%.

Transmisi kenaikan suku bunga terhadap pembentukan yield dan kupon obligasi korporasi umumnya membutuhkan jeda waktu. Pefindo kini tengah memantau seberapa besar kenaikan suku bunga acuan ini akan mengerek yield pasar dan memengaruhi kupon obligasi baru.

"Jika kenaikan tersebut relatif mendorong yield dan pembentukan kupon meningkat signifikan, maka bisa saja penerbitan surat utang korporasi tidak akan seramai yang diperkirakan dan akan cenderung berada antara titik tengah dengan batas bawah proyeksi kami," jelas Suhindarto kepada Kontan, Kamis (21/5/2026).

Pefindo memproyeksikan penerbitan baru surat utang korporasi sepanjang tahun 2026 berada di kisaran Rp 154 triliun hingga Rp 196,86 triliun. Adapun titik tengah dari target tersebut ditetapkan sebesar Rp 175,77 triliun.

Berdasarkan data terkini dari Pefindo, yield obligasi korporasi tenor tiga tahun dengan peringkat AAA berada di level 5,8% pada kuartal I-2026. Angka ini relatif stabil dibandingkan kuartal IV-2025 yang bergerak di kisaran 5,7% sampai 5,8%.

Meski cenderung stabil pada akhir tahun lalu, tingkat yield pada kuartal pertama tahun ini sudah mengalami penurunan yang cukup dalam. Angka tersebut melorot sekitar 120 basis poin jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang sempat menyentuh 7%.

Artikel terkait

Rekomendasi