Sejumlah program prioritas dan proyek strategis pemerintah menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I/2026. Pertumbuhan ini tercermin melalui berbagai komponen lapangan usaha serta pengeluaran yang signifikan, seperti dilansir dari Ekonomi.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp6.187,2 triliun pada periode tersebut. Sementara itu, PDB atas dasar harga konstan tercatat sebesar Rp3.447,7 triliun.
Secara tahunan, ekonomi nasional tumbuh sebesar 5,61 persen dibandingkan kuartal I/2025. Meski demikian, angka ini mengalami kontraksi sebesar 0,77 persen jika dibandingkan dengan capaian pada kuartal IV/2025 (qtq).
Dilihat dari sisi lapangan usaha, sektor akomodasi makan dan minum mencatatkan pertumbuhan tertinggi mencapai 13,14 persen (yoy). Peningkatan ini dipicu oleh aktivitas selama libur nasional serta perluasan jangkauan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Di mana hal ini didorong oleh peningkatan penyediaan makanan dan minuman pada momen libur nasional dan perluasan cakupan Makan Bergizi Gratis," terang Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti pada konferensi pers di kantor BPS, Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Efek program MBG juga merambah ke subsektor peternakan yang tumbuh 11,84 persen. Kenaikan permintaan daging ayam ras dan telur sebagai bahan baku menu makanan bergizi menjadi faktor utama pendorong kenaikan di sektor tersebut.
Penguatan Sektor Konstruksi dan Investasi
Sektor konstruksi turut merasakan dampak positif dari program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan pembangunan infrastruktur gizi. Lapangan usaha ini tumbuh sebesar 5,49 persen (yoy) dan tetap menjadi salah satu penyumbang distribusi terbesar terhadap PDB.
Data BPS menunjukkan adanya penambahan 6.737 unit Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) selama periode Desember hingga Maret 2026. Hal ini memicu peningkatan belanja modal pemerintah untuk pembangunan fisik dan penyediaan peralatan dapur.
"Konstruksi tumbuh menguat 5,49% sejalan dengan meningkatnya aktivitas pembangunan infrastruktur fisik yang didorong oleh meningkatnya realisasi anggaran belanja modal pemerintah untuk sektor konstruksi, meningkatnya aktivitas konstruksi oleh swasta, salah satunya karena bertambahnya jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG dan juga Koperasi Desa Merah Putih," terang Amalia.
Dari sisi pengeluaran, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi tumbuh 5,96 persen (yoy). Proyek Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta menjadi salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) yang memberikan kontribusi besar pada pertumbuhan investasi fisik.
"Pembangunan MRT yang juga melakukan investasi fisik lebih dari Rp25 triliun," tutur Amalia.
Investasi pemerintah juga terlihat melalui pembangunan gerai fisik Koperasi Desa Merah Putih serta pengadaan mesin dan kendaraan. Langkah ini berjalan beriringan dengan program infrastruktur konektivitas dan upaya swasembada pangan nasional.
"Dalam triwulan I/2026 ini juga kami mencermati adanya pembangunan fisik SPPG yang cukup masif dan tentunya pembangunan fisik dan infrastruktur konektivitas ini menjadi bagian dari kontribusi terhadap PMTB," pungkas Amalia.