Gubernur BI Proyeksikan Rupiah Kembali Menguat Mulai Juli 2026

Gubernur BI Proyeksikan Rupiah Kembali Menguat Mulai Juli 2026

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memproyeksikan nilai tukar rupiah akan bergerak menguat terhadap dolar Amerika Serikat pada Juli hingga Agustus 2026 setelah mengalami tekanan musiman pada April sampai Juni.

Proyeksi tersebut disampaikan dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta pada Senin (18/5/2026) guna merespons kritik parlemen atas pelemahan mata uang Garuda yang sempat menyentuh level Rp17.600-an per dolar AS.

Berdasarkan data perdagangan pada Senin (18/5/2026), rupiah ditutup berada di level Rp17.668 per dolar AS atau melemah 0,40 persen, sementara rata-rata tahun berjalan berada di angka Rp16.900 per dolar AS.

"Stabilitas nilai tukar rupiah, bukan tingkat nilai tukar rupiah, kita bicara stabilitas, bukan level, nah ini yang harus kita jabarkan, nah yang kami dekati sekarang adalah yang kita sebut stabilitas itu ada volatilitas nilai tukar rupiah yang average-nya 20 hari, jadi kami buat naik-turunnya nilai rupiah average dalam 20 hari itu rolling-nya seperti apa," kata Perry saat rapat kerja di Komisi XI DPR kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (18/5/2026).

Perry menjelaskan bahwa ukuran naik-turun rupiah selama 20 hari saat ini berada di kisaran 5,4 persen sehingga kondisinya dinilai masih relatif stabil sesuai dengan mandat undang-undang.

"Kami cek tadi itu di dalam year-to-date sekarang adalah 5,4%, which is actually itu masih relatif stabil, itu bicara lagi-lagi mandatnya UU adalah stabilitas nilai tukar rupiah, mari kita ukur, stabilitas bukan level, tapi itu adalah gimana naik-turunnya, itu naik-turunnya kami dekati adalah standar deviasi yang rolling selama 20 hari, rolling terus, tadi kami cek 5,4%," jelas Perry.

Mengenai target anggaran, Perry menyebutkan kisaran batas bawah asumsi nilai tukar 2026 berada pada level Rp16.200 dan batas atas Rp16.800 per dolar AS dengan nilai fundamental rata-rata Rp16.500 per dolar AS.

"Timbul pertanyaan tadi apakah stabilitas nilai tukar rupiah mau diukur dengan rentangnya dengan asumsi nilai tukar, kan kira-kira ada average tahunan berapa kisaran bawah kisaran atas untuk tahun 2026, seingat saya dalam budget kalau nggak salah Rp 16.500, kisaran bawahnya Rp 16.200, kisaran atasnya Rp 16.800, ya. Nah nanti kami jelaskan bagian kedua, year-to-date sekarang average year-to-date rupiah sekarang Rp 16.900 sekian. Wah berarti di atas nih," ujar Perry.

Tekanan kurs pada April hingga Juni dipengaruhi faktor musiman tingginya kebutuhan dolar AS untuk repatriasi dividen, pembayaran utang luar negeri, transaksi jemaah haji, serta ketidakpastian global akibat perang AS-Iran.

"Tetapi yang kita bicarakan average tahunan, dan kalau dilihat dari tahun ke tahun rupiah memang umumnya dalam tekanan April, Mei, Juni, karena day money-nya tinggi, tapi dalam Juli-Agustus akan menguat, coba. Juli, Agustus, September, itu akan, kalau kita lihat grafik itu akan, itu kenapa kita masih yakin gitu ya," ujarnya.

Perry menambahkan bahwa mayoritas bank sentral di dunia, kecuali beberapa negara seperti Singapura dan Hong Kong, menyerahkan nilai tukar kepada mekanisme pasar.

"Memang tidak banyak bank sentral yang menargetkan nilai tukar, hanya Singapura aja, Hong Kong, dan beberapa negara yang targetnya adalah nilai tukar, sebagian besar negara, nilai tukar diserahkan kepada mekanisme pasar, dalam situation ini memang banyak yang dibiarkan mekanisme sehingga beberapa indikatornya makanya kalau negara lain volatilitasnya lebih gede meski depresinya tak terlalu besar, jadi kami menggunakan volatilitas dasarnya adalah standar deviasi, standar deviasi itu kan ukuran statistik, mohon maaf saya tidak bermaksud menggurui, standar deviasi kan tentu saja berapa standar deviasinya dari mean, kita ukur itu bapak, bukan kembali ke level awal. Dasar ukuran statistik saja," jelas Perry.

Pihak Bank Indonesia menyatakan kesiapannya untuk melakukan intervensi karena rata-rata tahun berjalan masih berada di angka Rp16.900 per dolar AS.

"Nilai fundamentalnya berapa? average of the year Rp 16.500, kisaran bawahnya Rp 16.200 kisaran atasnya Rp 16.800," kata Perry.

BI optimistis rerata tahunan kurs rupiah akan kembali masuk ke dalam target yang telah disepakati nasional dalam APBN.

"Apakah BI akan masuk? masuk. Karena sekarang year to date Rp 16.900 dan pengalaman kami kalau April, Mei, dan Juni memang tinggi, kalau Juli-Agustus akan menguat," tutur Perry.

Guna mewujudkan pemulihan tersebut, BI menyiapkan tujuh langkah kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan menarik aliran modal asing.

"Sehingga the whole year kami masih meyakini nilai tukar akan di dalam kisaran Rp 16.200-Rp 16.800," tegas Perry.

Langkah penstabilan rupiah itu meliputi intervensi valas besar-besaran di pasar spot, DNDF, dan NDF, mempertahankan BI-Rate di level 4,75 persen, serta menaikkan suku bunga SRBI tenor 12 bulan ke 6,41 persen.

“Rupiah itu memang umunya dalam tekanan di April, Mei, Juni karena demand-nya tinggi. Tapi mulai bulan Juli, Agustus, September rupiah akan menguat,” kata Perry.

BI juga membeli SBN di pasar sekunder sebesar Rp133,39 triliun hingga Mei 2026, menjaga pertumbuhan uang primer tetap double digit, memperluas transaksi LCT yuan-rupiah, serta memperketat pengawasan korporasi.

“Sehingga the whole year, rerata tahunannya masih dalam kisaran kesepakatan nasional (APBN), yang tadi Rp16.200 sampai Rp16.800 kesepakatannya itu,” ungkap Perry.

Pernyataan Perry mengenai parameter stabilitas tersebut memicu respons langsung dari jajaran pimpinan dan anggota Komisi XI DPR RI yang hadir.

"Tapi yang kita percaya kan average tahunan. Dan kalau dilihat dari tahun ke tahun, rupiah itu memang umumnya dalam tekanan April, May, Juni. Tapi bulan Juli, Agustus akan menguat," ujar Perry Warjiyo.

Dilansir dari Detik Finance, pergerakan kurs yang melemah ini juga memicu pembicaraan di tengah masyarakat mengenai kondisi perekonomian nasional.

"Nilai fundamentalnya berapa? Average of the year Rp 16,500. Kisaran bawahnya Rp 16.200, kisaran atasnya 16.800. Apakah BI yakin akan masuk? Masuk. Karena sekarang Rp 16.900 year to date. Dan pengalaman kami kalau April, Mei, Juni memang tinggi. Nanti kalau Juli, Agustus akan menguat. Sehingga the whole year kami masih meyakini nilai tukar akan di dalam kisaran Rp 16.200- Rp 16.800," jelas Perry Warjiyo.

Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun mempertanyakan mengapa formula standar deviasi masih dipertahankan jika tidak mencerminkan fundamental ekonomi yang sebenarnya di lapangan.

"Ini sebagai diskusi ya, tantangan ekonomi kita makin berbeda Pak, dan standar deviasi sudah lama dipakai BI, dan kemudian tidak mencerminkan apa yang selama ini disampaikan oleh Bapak juga, disampaikan Menkeu, disampaikan, saya termasuk yang sering menyampaikan, tidak mencerminkan, kenapa nilai tukar tidak mencerminkan fundamental ekonomi kita? Itu yang jadi pertanyaan, kalau kemudian standar deviasi itu masih dipakai dan itu tidak menjadi cerminan bagi fundamental ekonomi kita, kenapa itu masih dipertahankan? Itu yang jadi pertanyaan," tutur Mukhamad Misbakhun, Ketua Komisi XI DPR.

Kritik senada disampaikan oleh perwakilan Fraksi PDI Perjuangan yang mempertanyakan landasan indikator stabilitas bank sentral.

“Interupsi, Ketua. Gini, Pak, menerjemahkan stabilitas ini, Pak. Tadi kan Bapak billing stabilitas bukan pada level, tapi pada gejolaknya tadi 5,4%,” ujar Dolfie, Wakil Ketua Komisi XI DPR RI Fraksi PDIP.

Dolfie mempertanyakan keabsahan rentang angka yang diklaim sebagai batas aman oleh Gubernur BI.

“Nah, menetapkan bahwa dalam rentang 5,4% itu stabil, apa landasannya?” lanjut Dolfie.

Anggota Komisi XI DPR RI lainnya, Harris Turino, turut menyoroti persepsi publik serta adanya selorohan terkait angka pelemahan kurs saat ini.

"Kita tahu bahwa tadi teman-teman mengatakan kursnya sudah Rp 17.600. Bahkan muncul ejekan kalau Rp 17.845 maka Indonesia merdeka katanya, 17-8-45. Nah, tetapi bapak mengatakan bahwa rupiah stabil relatif stabil kalau dibandingkan dengan negara yang lain," kata Harris Turino, Anggota Komisi XI DPR RI.

Kebijakan pembatasan transfer dolar ke luar negeri tanpa underlying transaction juga akan diturunkan BI menjadi 25 ribu dolar AS per pelaku per bulan mulai Juni 2026.

Artikel terkait

Rekomendasi