Goldman Sachs memproyeksikan lonjakan target 12 bulan untuk MSCI Emerging Markets Index menjadi 2.000 akibat pertumbuhan laba perusahaan berbasis kecerdasan buatan pada Rabu, 3 Juni 2026. Revisi tersebut mencerminkan potensi kenaikan hampir 12 persen dari posisi penutupan terakhir di level 1.787,88.
Pertumbuhan performa pasar negara berkembang ini dipimpin oleh kawasan Asia Utara, khususnya Korea Selatan dan Taiwan, yang memperoleh dampak positif dari tren kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Berdasarkan laporan Money, indeks acuan tersebut melonjak 9 persen pada Mei, melampaui indeks S&P 500 di Amerika Serikat yang hanya tumbuh 5 persen pada periode yang sama.
"Kami pikir reli yang didorong oleh pendapatan ini dapat verlanjut mengingat siklus naik yang lebih panjang, yang mengarah pada peningkatan lebih lanjut dalam ekspektasi pendapatan dan target indeks kami di Korea dan Taiwan," kata Goldman dalam catatan pada Rabu.
Kenaikan target didukung oleh permintaan produk chip memori kelas atas untuk kebutuhan pusat data. Dua raksasa teknologi asal Korea Selatan, SK Hynix dan Samsung Electronics, sukses menembus valuasi sebesar 1 triliun dollar AS atau sekitar Rp18.046 triliun pada bulan lalu akibat terbatasnya pasokan barang yang memicu kenaikan harga global.
Lembaga keuangan global tersebut memprediksi pertumbuhan laba per saham atau earnings per share (EPS) indeks MSCI Emerging Markets akan menyentuh angka 55 persen pada tahun ini, naik dari perkiraan lama sebesar 45 persen. Untuk periode tahun 2027, Goldman Sachs memperkirakan pertumbuhan EPS berada di angka 20 persen dari perkiraan sebelumnya sebesar 19 persen.
Kondisi ini dinilai tidak berlangsung merata karena laba per saham diestimasi hanya tumbuh sebesar 11 persen pada 2026 dan 2027 apabila wilayah Asia Utara dikeluarkan dari kalkulasi data. Wilayah Asia Utara memegang porsi sekitar setengah dari total bobot indeks sehingga membuktikan besarnya andil sektor teknologi terhadap profit pasar negara berkembang.
Di luar teknologi, pasar yang sensitif terhadap pergerakan suku bunga seperti Afrika Selatan, Brasil, dan Uni Emirat Arab dinilai memiliki peluang untuk mencatatkan performa optimal. Pandangan optimistis itu mencuat di tengah peluang tercapainya kesepakatan bilateral antara pihak Amerika Serikat dan Iran yang dapat meredakan ketegangan konflik geopolitik.
Apabila risiko geopolitik global menyusut, mata uang won Korea Selatan, rand Afrika Selatan, zloty Polandia, serta peso Chili berpeluang besar untuk menguat. Goldman Sachs menilai pasar obligasi lokal juga memiliki ruang pemulihan yang cukup besar.