Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) diproyeksikan berpotensi mengalami penguatan menuju level batas atas atau resistance pada perdagangan hari Senin (25/5/2026). Perkiraan penguatan teknikal untuk emiten perbankan swasta terbesar di Indonesia tersebut disampaikan oleh CGS International Sekuritas Indonesia setelah melihat pergerakan pasarnya.
Dilansir dari Investor Daily, perusahaan sekuritas tersebut memperkirakan target harga terdekat untuk saham BBCA akan berada pada kisaran Rp 5.975 hingga Rp 6.050. Berdasarkan analisis teknikal yang dilakukan, mereka juga memetakan area support yang diidentifikasi berada pada rentang harga Rp 5.750 sampai Rp 5.825.
"BBCA memiliki support di 5.750-5.825. Target dekat di 5.975-6.050," tulis CGS International Sekuritas Indonesia.
Sebelum proyeksi ini dirilis, performa saham BBCA di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah sebesar 0,84 persen ke posisi Rp 5.900 pada hari Jumat (22/5/2026). Penurunan pada akhir pekan tersebut dipicu oleh aksi ambil untung investor setelah sempat menguat di beberapa sesi sebelumnya, serta mencerminkan dinamika konsolidatif menjelang akhir bulan.
Akumulasi pelemahan saham BBCA mencapai 3,67 persen dalam sepekan terakhir dan merosot 2,48 persen dalam kurun waktu satu bulan, sementara data kinerja jangka panjang dari pdiperjuanganbali.id menunjukkan penyusutan hingga 26,93 persen sepanjang tahun berjalan (ytd). Berdasarkan laporan dari Stockbit, pelemahan didorong oleh tekanan jual investor global dengan nilai aksi jual bersih (net sell) asing mencapai Rp 322,3 milar pada Jumat (22/5/2026).
Dilansir dari Investortrust via babelinsight.id, aksi net sell asing pada saham BBCA dalam sebulan terakhir mencapai Rp 4,72 triliun, menempati peringkat kedua terbanyak setelah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebesar Rp 5,84 triliun. Namun, sejumlah analis tetap kompak memberikan rekomendasi beli karena kinerja kuartal I-2026 berhasil membukukan laba bersih Rp 14,7 triliun, tumbuh 4 persen secara kuartalan maupun tahunan.
BRI Danareksa Sekuritas menetapkan rekomendasi beli dengan target harga Rp 10.900 per lembar karena menilai valuasi saham berada di bawah minus tiga standar deviasi dari rata-rata lima tahun. Di sisi lain, MNC Sekuritas turut mempertahankan rekomendasi beli meski memangkas target harga menjadi Rp 8.700 dari Rp 10.500 setelah merevisi biaya modal menjadi 7,5 persen.
Mandiri Sekuritas juga menetapkan target harga BBCA sebesar Rp 8.600 dengan mempertahankan rekomendasi beli atas dasar ketahanan kinerja perseroan. Pertumbuhan laba awal tahun dari bank yang didirikan pada 10 Agustus 1955 ini ditopang oleh peningkatan pendapatan non-bunga serta kedisiplinan biaya operasional.
Pelemahan saham BBCA saat ini berbanding terbalik dengan kondisi awal bulan ketika sektor keuangan melonjak 1,34 persen dan membawa IHSG menguat 0,87 persen ke level 7.027. Pergerakan saham komponen bursa secara lebih detail digambarkan melalui tabel berikut:
| Instrumen Pasar Modal | Persentase Perubahan | Status Sesi |
|---|---|---|
| Saham BBCA Harian | -0,84% | Melemah |
| Saham BBCA 10 Tahun | +126,92% | Pertumbuhan Jangka Panjang |
| Sektor Keuangan BEI | +1,34% | Topangan Awal Bulan |
| IHSG BEI | +0,87% | Kembali ke Atas 7.000 |
Para pelaku pasar modal saat ini terus memantau volume transaksi harian saham BBCA untuk memprediksi arah pergerakan harga pada pembukaan perdagangan selanjutnya.