PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) kini diwajibkan untuk mengejar keuntungan besar dari tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam melalui sistem satu pintu. Target ini tetap berjalan meskipun perusahaan belum sepenuhnya beroperasi secara penuh pada tahun ini, seperti dikutip dari Suara.
Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, memberikan penegasan mengenai orientasi bisnis institusi tersebut. Sejak awal dibentuk, PT DSI memang dirancang sebagai sebuah entitas bisnis murni yang fokus mencari profit, bukan sekadar menjalankan fungsi administratif.
"Dari awal karena kebetulan di bawah Danantara, dan namanya Danantara Sumberdaya Indonesia, ide awalnya memang menjadi suatu perusahaan dan perusahaan BUMN yang memang harus profit for profit," ujar Pandu dalam agenda Investor Daily Round Table, Selasa (26/5/2026).
Perusahaan holding ini baru saja berdiri sehingga perluasan operasional serta tugasnya akan diterapkan secara bertahap. Langkah terukur tersebut diambil agar perusahaan tidak kehilangan fokus utamanya dalam menjalankan roda bisnis.
"Jadi biar jelas saja. Dari sisi PT DSI sendiri, ini namanya 'you cannot get all three on one go'. Semuanya selangkah demi selangkah. Jadi awalnya menjadi agent of business dahulu," tambahnya.
Akselerasi di dalam internal perusahaan diproyeksikan tetap berjalan dengan sangat cepat. Pandu membandingkan perkembangan PT DSI dengan pertumbuhan organik BPI Danantara yang mampu melesat dalam kurun waktu satu tahun terakhir.
"Kita mulai Februari [2025] dengan 3 orang. Akhir Maret sudah 30 orang. Sekarang, setahun kemudian 450 orang. Saya rasa linimasanya serupa, mungkin [PT DSI] bisa sedikit lebih cepat," kata Pandu optimistis.
Aktivitas bisnis PT DSI pada fase awal akan berfokus pada sistem jual-beli komoditas strategis yang masuk dalam jaringan ekspor satu pintu. Tiga komoditas utama yang menjadi sasaran meliputi Minyak Kelapa Sawit atau crude palm oil (CPO), batu bara, serta paduan besi (ferro alloy).
"Fokus kami tadi sesuai dengan mandat ya, kita membeli dan terus menjual. Hal-hal yang lain di luar itu belum bisa kami diskusikan karena kita perlu menjalani terlebih dahulu. Setelah itu, kita akan berbicara juga dengan sektor swasta soal ini," jelas Pandu.
Legalitas PT Danantara Sumberdaya Indonesia tercatat resmi dalam dokumen Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum (AHU) Kementerian Hukum tertanggal 18 Mei 2026. Perusahaan ini memiliki kantor pusat di Wisma Danantara Indonesia, Jalan Gatot Subroto, Jakarta.
Modal dasar awal yang dimiliki oleh PT DSI bernilai Rp100 juta. Modal tersebut terbagi dalam bentuk 399 lembar saham seri A dengan nilai Rp99.750.000, serta 1 lembar saham seri B dengan nilai Rp250.000.
Struktur kepemilikan saham ditempatkan kepada PT Danantara Asset Management (DAM) yang menguasai 99 lembar saham seri A senilai Rp24.750.000. Sementara itu, saham Seri B dipegang penuh oleh Pemerintah Republik Indonesia senilai Rp250.000 sebagai pemegang kendali utama.
Tata kelola manajemen saat ini dipimpin oleh Luke Thomas Mahony yang dipercaya memegang jabatan Direktur Utama. Luke Thomas Mahony merupakan mantan Direktur PT Vale Indonesia Tbk (INCO).
Posisi Komisaris Utama ditempati oleh Harold Jonathan Dharma TJ. Ia merupakan seorang bankir investasi senior yang tercatat pernah menduduki posisi sebagai Direktur Mandiri Sekuritas.