Ketua DPR RI Puan Maharani memberikan perhatian serius terhadap efek domino ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah bagi perekonomian Indonesia. Gangguan keamanan di jalur perdagangan strategis seperti Selat Hormuz dinilai memicu tekanan pada nilai tukar rupiah.
Dilansir dari Detik Finance, pergerakan dolar Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan penguatan signifikan terhadap mata uang Garuda. Pada perdagangan hari ini, nilai tukar dolar AS telah menembus level Rp 17.500.
Lonjakan kurs ini berdampak langsung pada biaya pengadaan barang yang memiliki komponen impor tinggi. Puan Maharani menilai situasi ini memperberat operasional dunia usaha, terutama sektor industri dan transportasi.
"Kenaikan harga barang-barang yang mengandung komponen impor juga mulai dirasakan oleh masyarakat dan dunia usaha. Situasi ini dapat berpotensi memicu inflasi, menurunkan daya beli masyarakat, serta memperbesar beban pelaku usaha, khususnya sektor industri, transportasi, dan UMKM yang sangat sensitif terhadap kenaikan biaya operasional," jelas Puan dalam Rapat Paripurna DPR RI ke-18 Masa Persidangan V tahun Sidang 2025-2026, di Jakarta, Selasa (12/5/2026).
Krisis di Selat Hormuz tidak hanya memukul nilai mata uang, tetapi juga mengganggu stabilitas harga energi global. Kondisi tersebut memicu pembengkakan biaya logistik dan distribusi barang di tingkat internasional maupun domestik.
"Kita mengalami tekanan terhadap nilai tukar rupiah, kenaikan harga energi dan bahan bakar minyak, meningkatnya biaya logistik dan distribusi, serta tekanan terhadap ketahanan energi nasional akibat terganggunya rantai pasok global," kata Puan.
Menyikapi tantangan ini, DPR RI memberikan dukungan penuh terhadap langkah-langkah strategis yang diambil pemerintah bersama Bank Indonesia. Fokus utama mitigasi diarahkan pada pengendalian arus modal keluar dan stabilitas harga bahan pokok.
Penguatan koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter dianggap krusial untuk menjaga daya beli masyarakat kelas bawah. Langkah perlindungan sosial harus dipastikan berjalan efektif agar kelompok rentan tidak menanggung beban terberat dari guncangan ekonomi global.
"Oleh karena itu, DPR RI mendukung upaya terbaik pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional, ketahanan energi, bersama Bank Indonesia, melakukan mitigasi arus keluar modal asing, mengendalikan harga kebutuhan pokok, serta memastikan perlindungan terhadap masyarakat kecil agar tidak menjadi pihak yang paling terdampak dari gejolak global yang sedang terjadi," tutup Puan.