Sejumlah pengemudi angkutan berat mengeluhkan praktik pungutan liar yang masih marak terjadi di kawasan Kapuk Kamal, Jakarta Utara, pada Selasa (5/5/2026). Meskipun aparat kepolisian sering melakukan penindakan, kegiatan ilegal yang menyasar sopir truk ini dilaporkan terus muncul kembali di beberapa titik persimpangan jalan.
Aksi pungutan liar ini terpantau terjadi pada beberapa lokasi strategis, mulai dari pertigaan arah Cengkareng menuju Jalan Kapuk Kamal Raya hingga area di depan Rumah Pompa Polder Kamal. Berdasarkan laporan dari Megapolitan, para oknum warga kerap berdiri di tengah persimpangan untuk meminta uang secara langsung kepada setiap sopir yang melintas.
Fatih, salah satu sopir truk yang kerap melintasi jalur tersebut, mengungkapkan rasa jenuhnya terhadap situasi yang tidak kunjung berubah di lapangan.
"Ah itu mah sudah dari dulu. Capek," ujar Fatih.
Dia menjelaskan bahwa upaya penangkapan yang dilakukan petugas selama ini tidak memberikan efek jera yang permanen karena pelaku baru selalu muncul dalam hitungan hari.
"Entar ditangkap nih, ngakunya bersih, dua hari tiga hari nanti nongol lagi," ucap Fatih.
Kondisi ini memaksa para awak angkutan untuk selalu menyiapkan dana tambahan di luar biaya operasional resmi demi kelancaran perjalanan mereka.
"Makanya kami bilang, kalau mau ke situ harus uang jalannya gede," ujar Fatih.
Keluhan serupa disampaikan oleh Ardi, sopir berusia 45 tahun, yang menilai pemberantasan pungli di wilayah tersebut sangat sulit dilakukan.
"Ya, di situ mah tidak bisa hilanglah. Ditangkap hari ini, besok juga ada lagi, ada lagi," tutur Ardi.
Ia berpendapat bahwa jumlah oknum yang terlibat sangat banyak, sehingga penangkapan terhadap satu atau dua orang tidak berpengaruh pada keseluruhan kelompok.
"Mereka-mereka yang ditangkap doang, yang lain juga masih ada kawan-kawannya," ujar Ardi.
Selain masalah biaya, keberadaan oknum yang berpura-pura mengatur lalu lintas tersebut justru dinilai mengganggu kelancaran arus kendaraan di lokasi.
"Sebenarnya enggak ada pengaruhnya itu anak-anak itu ngatur lalin kayak gitu. Enggak ada pengaruhnya, sebenarnya malah kadang-kadang bikin macet," kata Ardi.
Ardi menambahkan bahwa para pelaku sangat mengincar kendaraan dengan pelat nomor luar daerah, terutama angkutan bus yang menempuh rute lintas pulau.
"Wah kalau di sana mah mereka itu kadang-kadang benar-benar malak itu. Apalagi sama mobil-mobil luar lintas Sumatera. Paling senang dia (oknum pelaku pungli)," kata Ardi.
Keresahan para sopir tetap bertahan seiring belum adanya solusi permanen untuk menciptakan keamanan dan kenyamanan di jalur logistik Jakarta Utara tersebut.
"Susah diberantas, di sana mah susah. Ya maunya saya mah sih hilang semua biar jadi aman," ujar Ardi.