Purbaya Yudhi Sadewa Aktifkan Lagi Bond Stabilization Fund Jaga Rupiah

Purbaya Yudhi Sadewa Aktifkan Lagi Bond Stabilization Fund Jaga Rupiah

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berencana mengaktifkan kembali skema Bond Stabilization Fund (BSF) untuk memperkuat stabilitas pasar obligasi domestik. Langkah strategis ini diambil guna meredam volatilitas imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN) serta mendukung penguatan nilai tukar rupiah.

Pengaktifan inisiatif internal Kementerian Keuangan ini dipicu oleh lonjakan yield dari level 5,9 persen menjadi 6,7 persen yang berdampak pada penurunan harga obligasi. Dilansir dari Money, kebijakan tersebut dijadwalkan mulai beroperasi pada Kamis (7/5/2026) tanpa menjadi bagian dari kerangka kerja Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).

"Saya punya Bond Stabilization Fund sendiri. Sebenarnya sudah ada, tapi tidak pernah dijalankan. Saya mau hidupkan lagi," jelas Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.

Purbaya menekankan bahwa implementasi kebijakan ini akan dilakukan sesegera mungkin untuk memberikan perlindungan bagi para investor di pasar keuangan. Penurunan harga obligasi yang drastis dikhawatirkan memicu kerugian modal yang dapat berujung pada penarikan dana besar-besaran oleh pemilik modal.

"Besok sudah jalan," jelas Purbaya Yudhi Sadewa.

Penurunan harga aset obligasi akibat kenaikan yield menjadi perhatian serius pemerintah karena berkorelasi langsung dengan aksi jual investor asing. Menkeu menegaskan bahwa pemantauan terhadap indikator-indikator pasar akan terus dilakukan secara intensif.

"Kalau yield naik, harga bond turun. Investor bisa kena capital loss, dan itu bisa memicu aksi keluar," jelas Purbaya Yudhi Sadewa.

Kementerian Keuangan juga memastikan akan menjalin komunikasi intensif dengan otoritas moneter untuk menyinkronkan kebijakan fiskal dan moneter. Langkah ini dipandang sebagai bentuk kontribusi langsung kementerian dalam menjaga kedaulatan mata uang nasional.

"Kita akan koordinasi dengan bank sentral. Tapi ini cara saya untuk bantu jaga rupiah," kata Purbaya Yudhi Sadewa.

Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo pada Selasa (5/5/2026) mengidentifikasi bahwa tekanan terhadap rupiah saat ini dipengaruhi oleh kombinasi dinamika global dan siklus musiman. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta kebijakan suku bunga tinggi Amerika Serikat menjadi faktor eksternal utama.

"Kenapa dalam jangka pendek ini ada tekanan-tekanan nilai tukar? Sebabnya ada beberapa faktor global dan kemudian pada faktor-faktor musiman," ujar Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia.

Kenaikan yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun hingga menyentuh 4,47 persen turut memperburuk situasi dengan menarik arus modal keluar dari pasar negara berkembang. Kondisi ini membuat aset dalam denominasi dolar AS menjadi lebih menarik bagi para pemilik modal internasional.

"Terjadinya pelarian modal dari emerging market termasuk Indonesia," kata Perry Warjiyo.

Artikel terkait

Rekomendasi