Purbaya Yudhi Sadewa Bantah Dana Pemerintah di Bank Tidak Berguna

Purbaya Yudhi Sadewa Bantah Dana Pemerintah di Bank Tidak Berguna

Kebijakan penempatan dana negara di sektor perbankan dinilai memiliki dampak positif yang besar bagi stabilitas finansial. Langkah ini diambil untuk memastikan roda perekonomian nasional tetap bergerak secara optimal.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyanggah opini yang menyebutkan bahwa penyimpanan dana pemerintah pada institusi perbankan tidak mendatangkan faedah bagi perekonomian, seperti dikutip dari Money.

Menurut Purbaya, kebijakan penempatan dana tersebut justru memegang peranan krusial dalam menjaga stabilitas likuiditas perbankan. Selain itu, langkah ini mampu merangsang pertumbuhan penyaluran kredit serta menyokong aktivitas sektor riil yang sedang menghadapi tekanan ekonomi global.

Guna mempertahankan tren pertumbuhan ekonomi, pemerintah bersama Bank Indonesia terus mengintensifkan sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter. Fokus utama koordinasi ini terletak pada penguatan likuiditas di dalam sistem keuangan domestik.

“Kalau Anda lihat base money M0 di April tumbuhnya 14,1 persen. Jadi ada cukup uang di perekonomian yang akan mendorong pertumbuhan perekonomian,” ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa edisi April 2026 di Jakarta, Rabu (19/5/2026).

Berdasarkan catatan historis, pergerakan jumlah uang beredar di masyarakat sempat memperlihatkan tren yang kurang menggembirakan. Perlambatan signifikan terdeteksi dalam rentang waktu yang cukup panjang.

Ia menjelaskan, pada periode Juli 2023 hingga Agustus-September 2025 pertumbuhan uang beredar sempat melambat bahkan mendekati nol.

Situasi pelambatan tersebut dinilai memicu risiko tinggi yang dapat menghambat produktivitas sektor swasta dan pelaku usaha di sektor riil.

Menyikapi risiko tersebut, otoritas fiskal dan bank sentral sepakat mengambil tindakan nyata untuk menginjeksikan likuiditas. Target utamanya adalah mengembalikan pertumbuhan uang beredar ke level dua digit.

Implementasi dari strategi tersebut diwujudkan melalui pengalokasian dana negara dalam jumlah besar ke jaringan bank-bank milik pemerintah.

Salah satu langkah yang dilakukan ialah menempatkan dana saldo anggaran lebih (SAL) sebesar Rp 200 triliun di Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).

Kebijakan pengalokasian SAL ini terbukti efektif dalam mempertebal bantalan likuiditas perbankan nasional. Efek dominonya terlihat pada akselerasi penyaluran kredit yang pada akhirnya menjaga momentum aktivitas ekonomi.

“Jadi banyak yang billing, oh uangnya enggak ada gunanya. Ternyata uangnya berguna,” kata dia.

Integrasi yang kuat antara instrumen fiskal dan moneter kini mulai membuahkan hasil nyata. Performa positif tersebut sudah terdokumentasi dalam laporan berkala pertumbuhan ekonomi makro.

Hal itu tecermin dari pertumbuhan ekonomi triwulan I 2026 yang mencapai 5,61 persen.

Purbaya menggarisbawahi bahwa capaian pertumbuhan tersebut tidak semata-mata bersumber dari realisasi belanja negara. Sektor privat kini mulai mengambil peran penting melalui ekspansi pembiayaan kredit.

“Karena kredit jadi tumbuh lebih cepat, cukup mendorong pertumbuhan swasta. Di triwulan pertama 2026 tumbuhnya 5,61 persen. Itu adalah dampak dari kebijakan yang kita kerjakan,” ujarnya.

Respons positif terhadap capaian ini juga diiringi dengan tanggapan langsung kepada pihak-pihak yang sebelumnya meragukan validitas dari strategi ekonomi yang diterapkan pemerintah.

“Jadi mereka mesti menulis lagi atau belajar lagi teori ekonominya atau menulis ulang teori ekonomi yang ada di kepala mereka,” ucapnya.

Di sisi lain, gairah ekonomi masyarakat juga memperlihatkan sinyal pemulihan yang kuat menjelang pertengahan tahun. Indikator pada sektor konsumsi mencatatkan lonjakan performa yang signifikan.

Selain itu, ia menilai sejumlah indikator konsumsi masyarakat mulai menunjukkan perbaikan pada April 2026.

Sektor otomotif menjadi salah satu kontributor utama dalam pembalikan arah tren konsumsi ini, setelah sebelumnya sempat mengalami penurunan volume penjualan.

Penjualan mobil yang sebelumnya terkontraksi 17,1 persen pada Maret 2026, disebut berbalik tumbuh 55 persen pada April. Sementara penjualan sepeda motor meningkat 28,1 persen.

“Jadi daya beli masyarakat masih ada,” kata Purbaya.

Optimisme terhadap penguatan daya beli ini diproyeksikan akan terus berlanjut pada bulan-bulan berikutnya. Pemerintah juga telah menyiapkan stimulus baru untuk memacu pasar kendaraan ramah lingkungan.

“Juni saya pikir akan tumbuh lebih cepat lagi karena pemerintah akan mengeluarkan insentif untuk mobil listrik dan motor listrik. Kita ingin ada stimulus tambahan di perekonomian,” tuturnya.

Pemulihan operasional di sektor korporasi dan industri manufaktur juga diperkuat oleh data konsumsi komoditas utama pendukung infrastruktur.

Menurut Purbaya, peningkatan konsumsi BBM, penjualan listrik, hingga konsumsi semen domestik juga menjadi sinyal aktivitas ekonomi mulai pulih.

“Industri mulai jalan lagi. Konsumsi semen domestik naik juga di bulan April. Biasanya konsumsi semen berhubungan dengan pembangunan, artinya investasi akan tumbuh cepat juga di triwulan kedua tahun ini,” kata dia.

Artikel terkait

Rekomendasi