Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mematahkan narasi penjualan aset secara masif di Indonesia dengan memaparkan data baru mengenai aliran masuk modal asing ke pasar obligasi pemerintah di Jakarta pada Jumat (5/6/2026).
Langkah agresif berbasis data empiris ini diambil untuk meredam sentimen negatif dari analis pasar global menyusul volatilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Berdasarkan laporan dari streamlinefeed.co.ke, pergerakan makroekonomi Indonesia tersebut kini menjadi sorotan dan rujukan bagi negara berkembang lain seperti Kenya untuk menstabilkan aset domestik.
Kementerian Keuangan mencatat bahwa obligasi pemerintah Indonesia dan instrumen utang bank sentral terus membukukan arus masuk bersih yang konsisten sepanjang kuartal kedua hingga awal Juni 2026. Masuknya modal institusional jangka panjang ini terjadi di tengah aksi jual saham oleh investor jangka pendek akibat tingginya suku bunga Federal Reserve.
Strategi pemanfaatan obligasi domestik berimbal hasil tinggi ini berhasil menahan modal asing tetap berada di dalam negeri tanpa menguras cadangan devisa secara drastis. Selain itu, transparansi komunikasi data oleh otoritas keuangan dinilai efektif melawan pergerakan program perdagangan algoritmik yang kerap memperburuk volatilitas di pasar negara berkembang.