Purbaya Yudhi Sadewa Prediksi Harga Minyak Dunia Bertahan Tinggi

Purbaya Yudhi Sadewa Prediksi Harga Minyak Dunia Bertahan Tinggi

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memproyeksikan harga minyak mentah dunia tidak akan mengalami penurunan dalam waktu dekat akibat konflik geopolitik di Timur Tengah yang diperkirakan berlangsung lama. Hal tersebut disampaikan Purbaya usai pelantikan di kantornya pada Selasa, 12 Mei 2026.

Pemerintah berencana menyiasati tingginya harga komoditas energi tersebut dengan menggelontorkan insentif kendaraan listrik pada Juni mendatang. Langkah ini diambil setelah Purbaya melapor kepada Presiden Prabowo Subianto guna menekan impor minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM).

"Karena kita lihat harga minyak dunia kan enggak akan turun. Setelah saya ke Amerika, saya pelajari cara Amerika melakukan diskusi dan mendesain term yang diberikan untuk Iran. Itu sepertinya desainnya untuk negara yang kalah perang. Dan pasti akan ditolak oleh Iran," jelas Purbaya.

Purbaya menilai dinamika negosiasi tersebut menunjukkan potensi konflik yang masih akan berkepanjangan. Pernyataan ini sekaligus mendasari kebijakan pemerintah untuk mempercepat transisi energi dari bahan bakar fosil ke listrik.

"Hitungan saya nih ya. Jadi kelihatannya itu perangnya masih panjang," lanjut Purbaya.

Bendahara negara tersebut meramalkan ketegangan antara Iran melawan Israel dan Amerika Serikat (AS) paling cepat baru akan mereda pada akhir kuartal ketiga tahun ini. Prediksi tersebut merujuk pada agenda politik internal di Amerika Serikat.

"Jadi saya pikir kan perangnya sebentar lagi selesai, ya sudah nggak usah pusing-pusing. Ternyata setelah saya lihat, kayaknya masih lama kalau begini. Paling jelek itu September. Paling bagus September itu berakhir, karena di sana ada pemilihan kan di Amerika Serikat. Tapi bisa saja jalan berlanjut terus, jadi kita akan monitor terus," ucap Purbaya.

Selain kebijakan kendaraan listrik, Purbaya berencana memangkas subsidi bagi PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) melalui evaluasi skema take or pay. Saat ini, PLN dilaporkan mengalami kelebihan pasokan listrik yang membebani kas negara melalui pembayaran kepada produsen listrik swasta (IPP).

"Itu mungkin kapasitas yang baru terpakai sekitar 70%, masih ada 30% listrik yang kita bayar tapi enggak dipakai. Kalau saya enggak salah ingat ya, tapi Anda bisa diskusi dengan PLN. Tapi yang jelas ada listrik yang belum terpakai yang kita bayar, saya mau pakai itu supaya subsidinya di PLN mengecil, BBM juga mengecil, itu utamanya," tegas Purbaya.

Berdasarkan data Kementerian Keuangan yang dilansir Bloomberg Technoz, beban subsidi dan kompensasi pada Kuartal I-2026 melonjak 266,5 persen menjadi Rp118,7 triliun. Realisasi ini mencakup kenaikan subsidi BBM sebesar 9,2 persen dan lonjakan subsidi pupuk mencapai 13,6 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Realisasi Subsidi dan Kompensasi Energi Kuartal I-2026
Jenis Subsidi/KompensasiSatuanRealisasi Q1-2026Pertumbuhan (YoY)
Total Subsidi & KompensasiRupiahRp118,7 Triliun266,5%
Subsidi BBMRibu Kilo Liter3.173,69,2%
Subsidi LPGJuta Kg1.419,53,8%
Subsidi PupukJuta Ton1,913,6%

Kondisi pasar global menunjukkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$98 per barel. Sementara itu, minyak Brent untuk pengiriman Juli ditutup pada angka US$104,21 per barel setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan keraguan atas gencatan senjata dengan Iran.

Artikel terkait

Rekomendasi