Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meminta masyarakat tidak perlu panik merespons pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh angka Rp 17.500 per dollar Amerika Serikat pada Selasa (12/5/2026). Purbaya meyakini kondisi fundamental ekonomi nasional saat ini masih berada dalam posisi yang stabil dan terkendali.
"Enggak (perlu panik). Karena pondasi ekonomi kita bagus, kita tahu betul kelemahan kita di mana, dan bisa kita betulin," ujar Purbaya di Gedung Kejagung, Jakarta, Rabu (13/5/2026).
Penegasan mengenai kekuatan ekonomi Indonesia disampaikan Menkeu untuk meredam kekhawatiran publik. Purbaya menyatakan optimismenya bahwa jajaran pemerintah memiliki kapasitas untuk segera memperbaiki fluktuasi nilai tukar yang terjadi di pasar keuangan belakangan ini.
Perbandingan dengan krisis moneter masa lalu juga ditekankan oleh Menkeu guna memberikan perspektif yang lebih tenang bagi para pelaku ekonomi. Purbaya menilai ketahanan ekonomi saat ini jauh lebih baik dibandingkan periode krisis dekade sembilan puluhan.
"Kita enggak akan sejelek kayak tahun '98 lagi, enggak akan jelek malah. Dengan pondasi ekonomi yang kuat enggak terlalu sulit sebetulnya," tegas Purbaya.
Terkait otoritas moneter, Menkeu menyerahkan langkah teknis pengendalian mata uang kepada Bank Indonesia (BI). Ia percaya bank sentral memiliki wewenang dan kemampuan penuh untuk menstabilkan kembali nilai tukar rupiah yang sempat tertekan.
"Ya itu anda tanya Bank Sentral saja, mereka yang berwenang. Tapi saya yakin mereka bisa kendalikan. Kita akan bantu sedikit-sedikit nanti," imbuh Purbaya.
Berdasarkan data Bloomberg yang dilansir dari Nasional, nilai tukar rupiah di pasar spot sempat melemah 0,37 persen pada Selasa (12/5/2026) hingga dibuka pada posisi Rp 17.479 per dollar AS. Namun, pada penutupan perdagangan Rabu (13/5/2026), mata uang Garuda berhasil menguat 53 poin atau 0,30 persen ke level Rp 17.475 per dollar AS.
Pelemahan mata uang ini ternyata terjadi secara luas di kawasan Asia yang terdampak oleh penguatan dollar Amerika Serikat. Beberapa mata uang negara tetangga turut mengalami depresiasi yang bervariasi.
| Mata Uang | Persentase Pelemahan |
|---|---|
| Won Korea Selatan | 0,89 persen |
| Peso Filipina | 0,48 persen |
| Baht Thailand | 0,30 persen |
| Yen Jepang | 0,22 persen |
| Ringgit Malaysia | 0,21 persen |
| Dollar Singapura | 0,17 persen |
| Dollar Taiwan | 0,03 persen |