Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengimbau para investor pasar modal agar tidak panik dan justru memanfaatkan momentum penurunan Indeks Harga Saham Gabungan untuk melakukan aksi beli pada Senin (18/5/2026) pagi.
Langkah merespons gejolak pasar ini diambil menyusul merosotnya posisi IHSG saat pembukaan perdagangan awal pekan, sebagaimana dilansir dari Kompas.
"Investor pasar saham kalau saya bilang jangan takut, serok bawah sekarang. Kalau saya lihat teknikalnya, sehari dua hari udah balik. Jadi jangan lupa beli saham," kata Purbaya di Lanud Halim Perdanakusumah, Jakarta, Senin (18/5).
Purbaya menilai bahwa koreksi yang terjadi pada pasar saham domestik saat ini murni disebabkan oleh sentimen jangka pendek, sementara fondasi makroekonomi nasional dinilai tetap berada dalam kondisi yang kokoh.
"Enggak apa-apa nanti kita perbaiki. Kan pondasi ekonominya kan bagus. Itu masalah sentimen jangka pendek," ujar Purbaya.
Pemerintah kini memfokuskan kebijakan untuk menjaga tren pertumbuhan ekonomi domestik agar tidak terdisrupsi oleh volatilitas di pasar keuangan global maupun regional. Sebagai langkah konkret, otoritas fiskal menjadwalkan intervensi yang jauh lebih agresif di pasar obligasi negara mulai hari ini.
"Nanti kita juga akan masuk ke bond market mulai hari ini. Minggu lalu udah masuk tapi hanya sedikit, mulai hari ini akan kita masuk dengan lebih signifikan lagi sehingga pasar obligasinya terkendali," tutur Purbaya.
Upaya stabilisasi pasar surat utang tersebut dinilai krusial guna mencegah aksi lepas portofolio oleh investor asing yang dipicu oleh kekhawatiran potensi kerugian modal akibat penurunan harga obligasi.
Di samping itu, ia menepis spekulasi publik yang mengaitkan pelemahan nilai tukar rupiah dan tekanan pasar saham saat ini dengan situasi krisis finansial hebat yang melanda Indonesia pada periode 1997-1998 silam.
"Kalau rupiah melemah seolah-olah kita akan bergerak seperti '97-'98 lagi. Beda, '97-'98 itu kebijakannya salah dan instability sosial politik terjadi setelah setahun kita resesi," ucap Purbaya.
Kondisi riil perekonomian Indonesia ditegaskan masih berada dalam jalur pertumbuhan yang kuat dan sama sekali tidak berada dalam fase resesi, sehingga pemerintah masih memiliki ruang intervensi kebijakan yang memadai.