Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa memberikan kritik tajam terhadap majalah keuangan internasional, The Economist. Kritik tersebut dilontarkan setelah media tersebut menyoroti kebijakan ekonomi Indonesia serta kondisi finansial dalam negeri.
Dikutip dari Suara, The Economist menjadi perbincangan hangat di media sosial setelah mengkritik kebijakan Prabowo. Akun media sosial resmi mereka bahkan mengunggah sembilan postingan terkait Prabowo dan Indonesia dalam waktu satu minggu.
Sorotan dari media tersebut bukan pertama kali terjadi. Menjelang akhir 2025, media ini sempat mengkritik kebijakan pengelolaan dana sebesar Rp200 triliun yang diatur oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Merespons kritik tersebut, Purbaya melayangkan sindiran keras dalam Pembukaan Rapimnas Kadin 2025 pada Desember tahun lalu. Ia menilai ada kesalahpahaman besar dari pihak media dalam melihat perputaran anggaran negara.
"Dia bilang di Economist itu, saya ngabisin uang yang disimpan untuk keadaan susah sebesar 200 triliun. Padahal kan uangnya nggak habis, uangnya cuma saya pindahin aja. Jadi majalah 'The Economist' yang canggih itu, ternyata nggak sepintar gua. Ini kalau Anda baca yang hari ini, dibilang saya salah. Gue billing 'Dasar majalah beg*'. Oh iya dong, iya dong, kan dia banyak ekonomnya kan harusnya? Ternyata emang dugaan saya betul, dia nggak sepintar saya. Jadi kalau saya hidupkan dua-duanya, ekonomi fiskal moneter dengan ini mesinnya dua tumbuh, saya pikir 6 sampai 6,5 bisalah. Nanti Anda akan mendapatkan keadaan ekonomi yang beda dibanding sebelumnya," kata Purbaya pada Pembukaan Rapimnas Kadin 2025.
Berdasarkan informasi dari laman resmi perusahaan, The Economist berada di bawah naungan The Economist Group. Struktur kepemilikan media swasta ini dirancang khusus demi menjaga independensi ruang redaksi mereka.
Saham perusahaan tersebut dimiliki oleh sejumlah keluarga investor terkemuka asal Eropa serta beberapa nama besar dalam dunia bisnis Inggris. Beberapa di antaranya meliputi nama-nama seperti Sainsburys, Cadburys, hingga Schroders.
Exor, yang merupakan bagian dari holding milik keluarga Agnelli, memegang porsi saham terbesar yaitu sekitar 43,4 persen. Sementara itu, The Economist Group menguasai 29,9 persen saham perusahaan.
Keluarga Agnelli dikenal sebagai salah satu dinasti konglomerat terkaya di dunia. Berdasarkan catatan majalah Forbes pada tahun 2002, Giovanni Agnelli dan keluarga memiliki kekayaan bersih mencapai 2,3 miliar dolar AS atau setara Rp44,2 triliun.
Proses Transaksi Saham dan Total Aset Perusahaan
Keluarga Rothschild sebelumnya juga menjadi salah satu penyokong dana penting bagi media ini. Namun, Lynn Forester de Rothschild dikabarkan telah menjual seluruh kepemilikan saham keluarganya sebesar 26,9 persen kepada miliarder asal Kanada, Stephen Smith.
Meskipun proses penjualan sedang berjalan, nama keluarga Rothschild masih tercantum dalam daftar resmi pemegang saham hingga Mei 2026. Di sisi lain, para staf di The Economist Group juga memiliki saham yang diperdagangkan secara privat dua kali dalam setahun.
Kekayaan gurita bisnis keluarga Agnelli ditaksir mencapai puluhan miliar dolar AS jika menghitung kapitalisasi pasar sektor otomotif. Mereka menguasai berbagai merek kendaraan global ternama seperti Ferrari, Lancia, Alfa Romeo, hingga manufaktur Chrysler.
Sebagai salah satu pemegang saham utama di dalam struktur korporasi, The Economist Group tercatat memiliki total aset yang cukup besar. Berdasarkan data keuangan terperinci, total aset yang dimiliki mencapai 187,5 juta poundsterling atau setara dengan Rp4,42 triliun.