Menteri Keuangan Purbaya Yudhi memberikan tanggapan terkait keraguan para investor global mengenai ketahanan ekonomi Indonesia. Isu ini mencuat di tengah memanasnya situasi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
Dilansir dari Suara, Purbaya menceritakan pengalamannya saat berhadapan langsung dengan para pemodal internasional dalam kunjungan kerja ke Amerika Serikat. Ia mengungkapkan adanya kekhawatiran terkait performa ekonomi nasional.
Investor asing sempat mempertanyakan kondisi Indonesia jika dampak perselisihan AS dan Iran memburuk. Menurut Purbaya, para pemodal memberikan sinyal akan membatasi nilai investasi jika kinerja ekonomi dianggap tidak stabil.
"Salah satu yang ditanyakan investor di sana adalah, ini kan dia nekan kita kan, 'Kalau Anda enggak bagus, saya invest-nya sedikit'. Ya kira-kira begitu, tapi ngomongnya halus," kata Purbaya.
Menghadapi tekanan tersebut, Purbaya menegaskan bahwa kondisi perekonomian Indonesia saat ini justru menunjukkan tren positif. Ia pun mengimbau para investor untuk tidak merasa khawatir dalam menanamkan modal di tanah air.
Pemerintah Indonesia kini telah menyiapkan strategi alternatif dengan menjajaki peluang investasi dari Tiongkok. Purbaya menyebut negara tersebut menunjukkan ketertarikan yang sangat besar untuk masuk ke pasar Indonesia.
Tiongkok menawarkan pendanaan dengan tingkat suku bunga yang kompetitif. Kehadiran opsi ini menjadi posisi tawar bagi pemerintah Indonesia dalam menjaga stabilitas pembiayaan nasional dari berbagai sumber global.
"Saya sudah ke China juga. China amat berminat untuk melakukan investasi di kita. Timbal balik kita juga di sana, dan bunganya lebih rendah, hanya 2,3 persen," ujar Purbaya.
Langkah ini diambil untuk menunjukkan kepada pasar bahwa Indonesia memiliki banyak pilihan mitra strategis. Purbaya memberikan sinyal kepada investor global bahwa pembiayaan pembangunan tetap memiliki banyak peminat lain.
"Jadi saya kasih sinyal ke mereka, kalau lu enggak mau, yang lain ada yang mau, yang lebih murah, kira-kira begitu," kata Purbaya.
Realisasi Pembiayaan APBN Maret 2026
Hingga periode Maret 2026, Kementerian Keuangan mencatat realisasi pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) telah mencapai Rp 257,4 triliun. Angka ini dianggap sebagai bukti kuatnya fondasi ekonomi.
Purbaya optimistis bahwa data tersebut akan memperkuat kepercayaan diri investor terhadap kebijakan pemerintah. Ia menegaskan bahwa sejauh ini tidak ada kendala berarti dalam hal pembiayaan negara.
"Jadi segi pembiayaan, enggak ada masalah. Investor masih berminat ke kita dan kepercayaan mereka ke kita masih tinggi," ucap Purbaya.