Misi Pusur Institute Pulihkan Aliran Sungai Klaten Lewat Kolaborasi

Misi Pusur Institute Pulihkan Aliran Sungai Klaten Lewat Kolaborasi

Pagi itu, aliran Sungai Pusur di Klaten terlihat jernih. Air mengalir melewati bebatuan, sementara suara tawa wisatawan sesekali terdengar dari aktivitas river tubing di tepian sungai.

Sulit membayangkan bahwa beberapa tahun lalu kawasan ini pernah dipenuhi sampah dan dianggap tak lagi terawat. Perubahan itu tidak terjadi dalam semalam. Di balik sungai yang kini menjadi ruang wisata dan sumber penghidupan warga, ada kerja panjang komunitas lokal yang melibatkan anak muda untuk menjaga kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Pusur, mulai dari hulu hingga hilir.

Menjaga Napas dari Hulu

Salah satu penggeraknya adalah Pusur Institute, komunitas yang berdiri sejak 2017 dan fokus pada konservasi sungai serta pelestarian sumber daya air. Sekretaris Pusur Institute, Lintang Eka Prakusya, menjelaskan bahwa DAS Pusur dibagi menjadi tiga wilayah utama: hulu di kawasan Taman Sari Boyolali, wilayah tengah, dan hilir di Klaten.

"Kalau wilayah atas tidak diperhatikan dan tidak menjaga konservasi alam, dampaknya akan terasa di wilayah tengah dan hilir," ujarnya Lintang, Sekretaris Pusur Institute.

Bagi mereka, sungai bukan hanya soal air yang mengalir. Sungai juga berkaitan dengan pertanian, ekonomi warga, hingga keberlangsungan hidup masyarakat di sekitarnya. Karena itu, pendekatan yang dilakukan tidak hanya sebatas membersihkan sungai, tetapi membangun ekosistem kolaborasi dari hulu sampai hilir.

Di kawasan hulu, misalnya, anak-anak muda dilibatkan dalam berbagai kegiatan konservasi seperti penanaman pohon di area resapan air, program adopsi anggrek Vanda tricolor khas Gunung Merapi, hingga pengembangan tanaman konservasi seperti kopi.

"Anak muda kami libatkan melalui program local champion di setiap wilayah," kata Lintang, Sekretaris Pusur Institute.

Tidak hanya itu, mereka juga memiliki program living library atau “perpustakaan hidup”, di mana anak muda berbagi pengalaman dan pengetahuan soal pelestarian lingkungan kepada masyarakat lain. Selain penghijauan, Pusur Institute juga melakukan pelepasan ribuan ikan endemik ke aliran sungai. Ikan tersebut berfungsi menjaga ekosistem sungai dengan memakan lumut yang dapat memengaruhi kualitas air.

"Total ada sekitar 2.000 ikan yang dilepas," ujarnya Lintang, Sekretaris Pusur Institute.

Geliat Ekonomi di Arus Tengah

Di wilayah tengah DAS Pusur, pendekatan konservasi berkembang menjadi gerakan ekonomi berbasis lingkungan. Salah satunya terlihat di kawasan river tubing yang kini ramai dikunjungi wisatawan. Sebelum menjadi destinasi wisata, kawasan sungai itu sempat dipenuhi sampah. Kondisi tersebut kemudian memicu inisiatif anak-anak muda setempat untuk mulai membersihkan sungai secara sukarela.

Gerakan itu berkembang menjadi relawan kebersihan sungai bersama Pusur Institute dan dukungan dari AQUA Klaten. Sedikit demi sedikit, masyarakat mulai ikut terlibat membersihkan sungai, membuka akses kawasan, hingga menyediakan tempat sampah di sekitar lokasi. Kini, kawasan tersebut berkembang menjadi ruang wisata berbasis alam. Salah satu pengelolanya adalah New Rivermoon yang menyediakan aktivitas river tubing, outbound, hingga restoran bernuansa alam.

"Kami dari 2017 bersih-bersih sungai. Setelah pandemi, kami membuka restoran dan tetap menjaga pengelolaan lingkungan," ujarnya Prakoso, Managing Director New Rivermoon.

Mereka juga mulai memilah sampah, mengurangi penggunaan plastik, hingga menggunakan instalasi pengolahan air limbah agar tidak mencemari sungai. Langkah ini diambil guna memastikan keberlangsungan bisnis selaras dengan kelestarian ekosistem yang menjadi daya tarik utama mereka.

"Pelan-pelan kami berkomitmen menjaga alam supaya bisnis tetap berjalan dan lingkungan tetap terjaga," katanya Prakoso, Managing Director New Rivermoon.

Keadilan Ekosistem di Hilir

Sementara di wilayah hilir, fokus gerakan diarahkan pada pertanian regeneratif dan pengelolaan irigasi. Menariknya, sebagian petani di wilayah hilir kini mulai ikut membayar jasa lingkungan kepada masyarakat di kawasan hulu. Skema ini dikenal sebagai pembayaran jasa lingkungan, yakni mekanisme di mana pihak yang menikmati manfaat air ikut berkontribusi menjaga kawasan resapan.

Dana tersebut digunakan untuk konservasi, mulai dari penanaman pohon hingga pembuatan biopori. Lintang menyebutkan bahwa kesadaran kolektif ini mulai tumbuh di berbagai kalangan yang merasa bergantung pada aliran air tersebut.

"Misalnya satu pohon punya nilai manfaat sekitar Rp5.000 per tahun untuk menjaga lingkungan," ujarnya Lintang, Sekretaris Pusur Institute.

Kolaborasi lintas sektor ini juga mendapat dukungan dari sektor industri yang beroperasi di wilayah tersebut. Public Affairs & Sustainability Senior Manager AQUA, Jeffri Ricardo, menegaskan bahwa keterlibatan perusahaan adalah bagian dari tanggung jawab menjaga siklus air.

"Kami berkomitmen untuk mengembalikan air ke alam lebih banyak daripada air yang digunakan," ujarnya Jeffri, Public Affairs & Sustainability Senior Manager AQUA.

Artikel terkait

Rekomendasi