Membaca Realitas Ekonomi: Antara Gejala 1998 dan Fundamental Kuat

Membaca Realitas Ekonomi: Antara Gejala 1998 dan Fundamental Kuat

RUANG publik hari ini dipenuhi dua suara yang saling menegasikan. Suara pertama berkata: “ini gejala awal 1998.” Suara kedua menjawab: “fundamental ekonomi kita kuat, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”

Masalahnya, keduanya sama-sama membaca situasi dengan kerangka yang terlalu sempit.

Yang pertama melihat setiap pelemahan rupiah sebagai pertanda kehancuran. Yang kedua memperlakukan setiap kritik sebagai bentuk pesimisme berlebihan.

Padahal, ekonomi tidak selalu bergerak dalam dua kotak sederhana: krisis atau baik-baik saja.

Mungkin yang sedang terjadi justru lebih rumit — dan lebih penting. Indonesia bukan sedang runtuh, tetapi sedang dipaksa tumbuh menjadi ekonomi yang lebih dewasa. Dan seperti proses pendewasaan pada umumnya, fase ini tidak nyaman.

Rupiah memang sempat menyentuh Rp 17.700 per dolar AS. IHSG terkoreksi tajam. Cadangan devisa juga terpakai untuk stabilisasi pasar.

Namun, menyimpulkan Indonesia sedang menuju 1998 karena tiga indikator itu sama sederhananya dengan mengatakan semuanya aman hanya karena pertumbuhan ekonomi masih 5,61 persen.

Ekonomi yang benar-benar menuju jurang biasanya tidak tumbuh di atas 5 persen. Namun, ekonomi yang benar-benar stabil juga tidak perlu menghabiskan miliaran dolar hanya untuk menjaga nilai tukar tetap terkendali.

Di situlah letak persoalannya: Indonesia sedang berada di fase transisi yang tidak cocok dibaca dengan logika hitam-putih.

Selama bertahun-tahun, Indonesia menikmati stabilitas yang relatif nyaman: inflasi rendah, konsumsi kuat, harga energi dijaga, dan gejolak sosial ditekan melalui berbagai bantalan fiskal.

Model ini berhasil menjaga pertumbuhan, tetapi sekaligus menciptakan ketergantungan terhadap stabilitas murah.

Ketika dunia berubah lebih keras — perang, suku bunga tinggi global, fragmentasi perdagangan, hingga perebutan rantai pasok industri — ekonomi Indonesia dipaksa menyesuaikan diri lebih cepat daripada sebelumnya.

Di titik inilah banyak orang keliru membaca rasa sakit sebagai penyakit.

Ekonomi yang mulai naik kelas memang cenderung mengalami turbulensi lebih besar. Hilirisasi membutuhkan impor mesin dan modal besar.

Industrialisasi menekan kebutuhan devisa dalam jangka pendek. Pendalaman pasar keuangan membuat arus modal lebih sensitif terhadap sentimen global.

Bahkan pelemahan rupiah dalam batas tertentu justru menjadi konsekuensi alami ketika negara sedang mengubah struktur ekonominya dari penjual bahan mentah menjadi produsen bernilai tambah.

Karena itu, situasi hari ini tidak sepenuhnya bisa dibandingkan dengan 1998.

Saat krisis Asia terjadi, Indonesia nyaris tidak memiliki bantalan. Cadangan devisa runtuh, perbankan kolaps, utang luar negeri swasta tidak terkendali, dan sistem keuangan kehilangan kepercayaan dalam waktu bersamaan.

Hari ini situasinya berbeda. Cadangan devisa Indonesia masih berada di kisaran lebih dari 140 miliar dollar AS. Perbankan memiliki rasio permodalan tinggi. Kredit investasi justru tumbuh jauh lebih cepat dibanding kredit konsumsi. Neraca perdagangan juga terus surplus selama bertahun-tahun.

Yang paling menarik justru perubahan yang jarang dibahas: struktur pasar domestik mulai lebih dalam.

Dulu, keluarnya investor asing sering langsung mengguncang pasar secara brutal. Hari ini investor domestik jauh lebih dominan dibanding satu dekade lalu.

Artinya, volatilitas tetap terjadi, tetapi fondasi pasar tidak lagi sepenuhnya bergantung pada modal asing jangka pendek.

Tentu semua ini bukan alasan untuk euforia. Pendewasaan ekonomi tidak otomatis berarti sukses. Ada syarat yang harus dipenuhi.

Paling penting adalah kepercayaan fiskal. Pasar mungkin masih bisa menerima pelemahan rupiah sementara, tetapi pasar tidak pernah nyaman terhadap ketidakjelasan arah anggaran dan perubahan kebijakan yang terlalu sering.

Di sinilah tantangan pemerintah sebenarnya: bukan sekadar menjaga optimisme, melainkan membuktikan bahwa belanja besar, hilirisasi, dan ambisi industrialisasi memang menghasilkan produktivitas nyata — bukan sekadar proyek yang terlihat megah di atas kertas.

Karena ekonomi dewasa bukan ekonomi yang anti-guncangan. Ekonomi dewasa adalah ekonomi yang berani menghadapi harga riil, berani mengakui risiko, dan tidak terus-menerus menyembunyikan tekanan melalui stabilisasi semu.

Itulah sebabnya indikator terpenting hari ini bukan semata nilai tukar rupiah atau level IHSG, melainkan apakah transformasi ini benar-benar membuat ekonomi lebih produktif, lebih tahan tekanan, dan lebih mandiri dalam jangka panjang.

Indonesia memang belum sepenuhnya sampai ke sana. Namun, mengatakan negeri ini sedang menuju kehancuran juga terlalu malas secara intelektual.

Masalah terbesar Indonesia hari ini mungkin bukan pelemahan rupiah. Masalah terbesarnya adalah bahwa kita belum terbiasa menerima kenyataan: ekonomi yang ingin naik kelas tidak bisa selamanya hidup dari stabilitas murah.

Artikel terkait

Rekomendasi