Morgan Stanley Capital International (MSCI) merombak komposisi indeks Global Small Cap dengan memasukkan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) dan menghapus 13 emiten Indonesia lainnya pada Rabu (13/5/2026). Perubahan hasil evaluasi berkala ini dijadwalkan berlaku setelah penutupan perdagangan 29 Mei dan efektif secara penuh mulai 1 Juni 2026.
Melansir laporan resmi MSCI.com, daftar emiten yang keluar dari indeks tersebut mencakup PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), serta PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO).
Selain nama-nama di atas, tujuh emiten lain yang terdepak adalah PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI), PT Mitra Keluarga Tbk (MIKA), PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN), PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM), PT Pacific Strategic Financial Tbk (APIC), PT Sawit Sumbermas Tbk (SSMS), dan PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG).
Secara global, MSCI menambah 246 saham baru ke dalam MSCI Global Small Cap Indexes dan mengeluarkan 195 saham pada periode evaluasi Mei 2026. Situasi ini memicu perhatian regulator dan pelaku pasar di tengah fluktuasi nilai tukar rupiah yang memengaruhi laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyatakan bahwa potensi pergeseran status Indonesia sebagai emerging market tetap dipantau meski pengumuman resminya baru dilakukan Juni mendatang.
“Itu nanti bulan Juni, moga-moga enggak ya,” kata Friderica, Ketua Dewan Komisioner OJK.
Ia menambahkan bahwa transparansi data dan integritas emiten di Indonesia saat ini sudah berada pada level yang kompetitif untuk menjaga kepercayaan investor internasional.
“Misalnya, kita lihat secara granularitas data, keterbukaan informasi itu mungkin salah satu yang terbaik lah untuk hal keterbukaan integritas yang kita sampaikan. Jadi, moga-moga ini juga menjadi konsideran supaya Indonesia tetap di emerging market,” ujarnya Friderica.
Regulator mengimbau agar investor tetap tenang dan melihat penyesuaian ini sebagai bagian dari upaya jangka panjang untuk memperbaiki kualitas pasar modal domestik.
“Tadi saya udah sampaikan, segala kemungkinan bisa terjadi. Jadi kita harus mengantisipasi. Jadi saya malah minta tolong sama teman-teman media bahwa ini mungkin bisa menjadi short term pain tapi insya Allah menjadi long term gain,” katanya Friderica.
Friderica menegaskan bahwa fluktuasi yang muncul merupakan konsekuensi logis dari langkah-langkah perbaikan yang sedang ditempuh otoritas bursa.
“Jadi, jangan orang terus jadi dibikin panik dan lain-lain. Ini memang konsekuensi dari perbaikan yang kita lakukan,” ujar Friderica.
Menanggapi kondisi pasar, Chief Investment Officer BPI Danantara, Pandu Sjahrir, berpendapat bahwa pergerakan indeks saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal di luar pengumuman MSCI.
“Saya rasa bukan menyangkut soal MSCI saja, (pergerakan IHSG) hari ini, lebih banyak faktor rupiah dan lain-lain,” kata Pandu Sjahrir, Chief Investment Officer BPI Danantara.
Pandu menyatakan keyakinannya terhadap sistem yang berjalan di bursa efek dan berharap hasil evaluasi memberikan dampak positif bagi pasar keuangan nasional.
“Ya kita tunggu saja besok. Seharusnya semua (syarat dan catatan MSCI) sudah dimasukkan juga. Saya sudah lihat perkembangannya, bursa bagus kok dari sisi penerapan yang sedang dilakukan,” ungkap Pandu.
Pihak Danantara menilai seluruh catatan teknis dari MSCI telah diakomodasi dengan baik oleh otoritas bursa.
“Insya Allah besok (hasil pengumuman) baik,” ujar Pandu.
Berdasarkan jadwal resmi, MSCI akan melakukan tinjauan indeks selanjutnya pada 12 Agustus 2026 yang akan mulai berlaku efektif pada 1 September 2026.