Rebalancing Indeks MSCI Picu Aksi Jual Saham Emiten Besar

Rebalancing Indeks MSCI Picu Aksi Jual Saham Emiten Besar

Aksi rebalancing indeks MSCI memicu gelombang pelepasan saham berkapitalisasi besar oleh investor asing di Bursa Efek Indonesia selama sepekan yang berakhir pada Jumat, 29 Mei 2026. Penyesuaian portofolio oleh manajer investasi global tersebut menyasar sejumlah emiten yang keluar dari indeks maupun yang mengalami penurunan bobot.

Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mencatat net foreign sell terbesar mencapai Rp2,44 triliun, yang membuat harganya merosot 10,75 persen ke level Rp1.785 per unit. Tekanan jual besar juga melanda PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan net sell Rp2,24 triliun dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) sebesar Rp1,99 triliun.

Meskipun menghadapi tekanan jual asing yang masif, saham AMMN justru melonjak 13,79 persen ke level Rp3.300 per unit. Tren serupa terjadi pada PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang membukukan net sell Rp532,07 miliar namun melesat 34,69 persen, serta PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) yang naik 22,33 persen dengan net sell Rp266,64 miliar.

Aksi lego saham oleh investor asing juga menimpa sektor perbankan dan ritel lainnya. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) membukukan net sell Rp855,37 miliar, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mencatat net sell Rp813,26 miliar, dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) mengalami net sell Rp635,46 miliar yang mengoreksi harganya sebesar 19,30 persen.

Selain itu, arus keluar dana asing melanda PT ANTAM (Persero) Tbk (ANTM) dengan net sell Rp373,80 miliar serta PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) sebesar Rp340,72 miliar. Berdasarkan penjelasan Phintraco Sekuritas, langkah penataan ulang ini mendorong penyesuaian portofolio investor global secara signifikan, terutama bagi produk yang mengikuti indeks tersebut.

Phintraco Sekuritas mencatat bahwa AMMN, BREN, TPIA, CUAN, dan DSSA resmi keluar dari MSCI Global Standard Index, sementara AMRT turun kelas ke MSCI Small Cap Index. Adapun ANTM didepak dari MSCI Small Cap Index bersama beberapa emiten lain seperti AALI, BANK, BSDE, DSNG, SIDO, MIDI, MIKA, MSIN, TKIM, APIC, SSMS, dan TAPG, sedangkan tekanan pada BBCA, BBRI, dan BMRI dipicu oleh downweight bobot indeks.

Pada perdagangan Jumat, 29 Mei 2026, Indeks Harga Saham Gabungan berakhir melemah tipis 0,05 persen ke posisi 6.127,38 setelah sempat menyentuh level tertinggi di 6.230. Menurut Phintraco Sekuritas, koreksi pasar ini relatif terbatas karena pelaku pasar dinilai telah mengantisipasi sentimen rebalancing tersebut jauh-jauh hari.

Pergerakan pasar modal domestik juga mendapat sokongan dari sentimen positif penguatan mayoritas bursa Asia yang didorong oleh kenaikan saham teknologi di Wall Street. Faktor ini bersama dengan penurunan harga minyak mentah berhasil meredam kecemasan pasar atas meningkatnya ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran.

Secara sektoral, penurunan terdalam dipimpin oleh sektor kesehatan yang terkoreksi 1,49 persen, sementara sektor infrastruktur menjadi penahan kejatuhan indeks dengan penguatan sebesar 2,89 persen. Di sisi lain, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup melemah ke level Rp17.881 per USD, yang menjadi posisi terendahnya pada hari tersebut.

Artikel terkait

Rekomendasi