S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor Tertinggi Baru di Wall Street

S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor Tertinggi Baru di Wall Street

Indeks S&P 500 dan Nasdaq mencapai rekor tertinggi baru pada penutupan perdagangan di bursa Wall Street, Rabu (13/5/2026), akibat besarnya minat investor pada sektor teknologi. Kenaikan ini terjadi di tengah rilis data inflasi Amerika Serikat yang melampaui prediksi pasar akibat ketegangan geopolitik global.

Dilansir dari Money, indeks S&P 500 mengalami penguatan sebesar 0,58 persen hingga menyentuh level 7.444,25, sementara Nasdaq melonjak 1,2 persen ke posisi 26.402,34. Sebaliknya, Dow Jones Industrial Average justru melemah 0,14 persen atau turun 67,36 poin ke level 49.693,20.

Lonjakan sektor teknologi dipimpin oleh saham Nvidia yang menguat lebih dari 2 persen dan Micron Technology yang naik di atas 4 persen. Pergerakan positif ini terjadi meski harga energi yang meningkat akibat perang Iran mulai menekan sektor ritel serta perbankan, termasuk penurunan pada saham Home Depot dan JPMorgan.

Analis strategi investasi Baird, Ross Mayfield, memberikan pandangannya mengenai ketahanan sektor semikonduktor di tengah fluktuasi ekonomi makro.

"Perdagangan saham chip saat ini benar-benar bergerak dengan momentumnya sendiri. Investor tampaknya melihat permintaan dan pertumbuhan di sektor ini sangat bersifat struktural, sehingga faktor-faktor makroekonomi yang lebih siklikal tidak banyak mengubah prospeknya," ujar Ross Mayfield, Analis Strategi Investasi Baird.

Mayfield menambahkan bahwa sektor kecerdasan buatan (AI) menjadi instrumen lindung nilai yang menarik bagi para pemodal saat terjadi ketidakpastian harga komoditas global.

"Di tengah berbagai situasi global, khususnya guncangan harga minyak, investor merasa lebih aman berlindung di saham-saham tersebut karena ledakan kecerdasan buatan (AI) akan tetap datang apa pun yang terjadi," kata Ross Mayfield, Analis Strategi Investasi Baird.

Sentimen positif juga muncul dari kunjungan CEO Nvidia, Jensen Huang, ke China bersama Presiden Donald Trump untuk bertemu Presiden Xi Jinping. Langkah diplomasi ini memicu harapan dibukanya kembali akses pasar chip AI di Negeri Tirai Bambu tersebut.

Namun, Mayfield mengingatkan bahwa faktor eksternal berupa konflik yang berkepanjangan tetap berpotensi memicu aksi ambil untung di masa depan.

"Pada titik tertentu, investor mungkin akan mulai melihat kondisi makroekonomi yang ternyata benar-benar berbalik merugikan mereka. Saat itu mereka bisa saja berpikir, ‘Sudah waktunya mengambil sebagian keuntungan, karena harapan bahwa perang akan cepat selesai ternyata jelas tidak terwujud,’" kata Ross Mayfield, Analis Strategi Investasi Baird.

Dari sisi data ekonomi, Indeks Harga Produsen (PPI) AS pada April tercatat melonjak 1,4 persen, jauh di atas estimasi awal sebesar 0,5 persen. Secara tahunan, inflasi tingkat grosir melesat 6 persen, mencatatkan kenaikan tahunan terbesar sejak akhir tahun 2022.

Artikel terkait

Rekomendasi