Simpanan Dolar Luar Negeri Rekor Capai USD14,5 Triliun Akibat Krisis

Simpanan Dolar Luar Negeri Rekor Capai USD14,5 Triliun Akibat Krisis

Permintaan global terhadap aset aman memicu lonjakan simpanan dolar Amerika Serikat (AS) di luar negeri hingga mencetak rekor baru sebesar USD14,5 triliun atau setara Rp252.285 triliun pada Rabu (6/5/2026). Kenaikan signifikan ini didorong oleh meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS, Israel, dan Iran yang mengganggu stabilitas ekonomi dunia.

Dominasi mata uang AS tetap kokoh di pasar internasional meskipun terjadi gejolak besar di Timur Tengah. Berdasarkan data Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication (SWIFT) yang dilansir AA Stock, porsi dolar dalam pembayaran global meningkat menjadi 51,1 persen pada Maret 2026, naik dari posisi 49,2 persen pada bulan sebelumnya.

Eskalasi konflik bersenjata menjadi katalisator utama pergerakan dana ke mata uang dolar. Ketegangan tersebut memuncak sejak akhir Februari 2026 setelah serangan udara AS dan Israel ke wilayah Iran direspons dengan pemblokiran Selat Hormuz, yang berdampak langsung pada terhambatnya distribusi energi global.

Kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi mendorong banyak negara, khususnya produsen minyak di kawasan Timur Tengah, untuk mengalihkan aset mereka ke dolar sebagai bentuk perlindungan nilai. Situasi semakin memanas menyusul insiden militer susulan di kawasan Teluk Persia pada awal Mei 2026.

Indeks dolar AS saat ini terpantau bergerak stabil dan menunjukkan ketahanan yang kuat di tengah ketidakpastian global yang terus berlanjut. Meski belum kembali ke level tertinggi tahunannya, stabilitas posisi dolar didukung oleh aliran masuk modal global yang mencari keamanan di tengah risiko geopolitik.

Artikel terkait

Rekomendasi