Rencana Pembentukan Badan Ekspor Komoditas Picu Penurunan Saham

Rencana Pembentukan Badan Ekspor Komoditas Picu Penurunan Saham

Rencana kebijakan pemerintah membentuk badan khusus ekspor komoditas memicu guncangan pada pasar saham Indonesia hingga mengakibatkan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG anjlok 3,46 persen ke level 6.370 pada perdagangan hari Selasa (19/5/2026).

Langkah baru tersebut diproyeksikan membuat eksportir dalam negeri tidak bisa lagi menjual komoditas strategis secara langsung kepada pembeli luar negeri karena tata kelola niaga akan dialihkan melalui lembaga bentukan baru ini.

Badan baru tersebut dikabarkan memiliki kewenangan mengambil margin keuntungan dari setiap transaksi ekspor komoditas dengan sasaran awal menyasar sektor batu bara serta minyak kelapa sawit mentah atau CPO.

Sebagaimana dilansir dari Investasi, penurunan tajam melanda berbagai emiten komoditas CPO seperti PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) yang merosot 15 persen dan PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) turun 14,97 persen.

Pelemahan sektor kelapa sawit juga diikuti oleh saham PT PP London Sumatera Indonesia Tbk (LSIP) yang menyusut 7,72 persen serta PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) sebesar 6,25 persen.

Pada sektor pertambangan batu bara, koreksi mendalam terjadi pada saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) sebesar 11,82 persen diikuti oleh PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang melemah 9,71 persen.

Sektor komoditas menjadi pilihan pemerintah untuk dihimpun dananya demi memulihkan defisit APBN mengingat harga komoditas global mengalami lonjakan signifikan sejak awal tahun 2026.

Direktur Avere Investama, Teguh Hidayat menyatakan bahwa rencana regulasi ekspor ini berpotensi berjalan efektif jika diimplementasikan secara tepat di lapangan agar tidak menyerupai praktik tengkulak.

"Namun, kemungkinan ini kecil terjadi, sebab tentu akan menimbulkan penolakan dari para perusahaan-perusahaan komoditas," ujar Teguh Hidayat, Direktur Avere Investama.

Teguh Hidayat menambahkan kebijakan baru ini diprediksi tidak langsung menekan laba bersih maupun pendapatan karena emiten komoditas terbantu oleh tingginya harga komoditas dunia saat ini.

"Tapi, keuntungannya itu nanti harus dibagi dengan pemerintah. Ini win-win solution, pemerintah bisa dapat uang dan perusahaan bisa tetap menumbuhkan kinerja," kata Teguh Hidayat, Direktur Avere Investama.

Pelepasan wacana kebijakan yang berisiko mengguncang pasar dinilai tepat dilakukan saat IHSG sedang turun dalam karena tidak mengganggu momentum ketika bursa sedang mengalami tren penguatan.

"Jadi, biarkan saat ini jeblok sekalian, agar nanti saat momentum pasar kembali jadi bisa rally kencang," ungkap Teguh Hidayat, Direktur Avere Investama.

Sentimen eksternal terkait rebalancing indeks MSCI beserta langkah transformasi internal bursa yang tengah berjalan dinilai menjadi faktor utama lain di balik koreksi pasar saham.

Otoritas pasar memperkirakan pergerakan IHSG berada pada kisaran 6.000 hingga 6.500 di akhir semester I 2026, dengan target minimal kembali ke level 8.000 pada akhir tahun 2026 setelah persoalan MSCI rampung.

Artikel terkait

Rekomendasi