Kontrak perdagangan CPO untuk Agustus 2026 yang lebih aktif mencatatkan penguatan sebesar 0,63% secara harian menuju level MYR 4.486 per metrik ton. Dilansir dari Investasi, kontrak tersebut sebelumnya sempat mengalami koreksi sebesar 2,73% pada perdagangan hari Kamis.
Jika dilihat secara bulanan, pergerakan harga CPO sebenarnya masih mengalami pelemahan sebesar 2,03%. Kendati demikian, performa harga komoditas ini sejak awal tahun atau year to date (YtD) masih membukukan tren positif dengan kenaikan mencapai 10,77%.
Pengamat komoditas Ibrahim Assuaibi mengungkapkan bahwa penurunan harga CPO belakangan ini dipicu oleh pengumuman Presiden Prabowo Subianto terkait rencana restrukturisasi ekspor komoditas melalui badan baru bernama Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Langkah ini juga dibarengi dengan komitmen pemerintah untuk menciptakan standarisasi harga acuan komoditas mandiri di pasar internasional.
"Pasar merespons negatif karena ada kekhawatiran mekanisme ekspor akan berubah. Ini bukan hanya berdampak ke CPO, tetapi hampir seluruh komoditas di Indonesia ikut terkoreksi," ujar Ibrahim kepada Kontan, Minggu (24/5/2026).
Ibrahim Assuaibi menguraikan bahwa Bursa Malaysia Derivatives selama ini menjadi acuan utama karena terintegrasi langsung dengan aktivitas pasar fisik. Sebaliknya, skema operasional lembaga baru bentukan pemerintah Indonesia dinilai para pelaku pasar belum memiliki kejelasan regulasi teknis.
Kondisi ini memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi penurunan fleksibilitas aktivitas dagang dan pudarnya ketertarikan modal asing di pasar domestik.
"Investor asing tidak suka jika mekanisme pasar menjadi terlalu birokratis. Kalau implementasinya tidak sesuai ekspektasi pasar, lembaga pemeringkat internasional bisa saja menurunkan outlook atau rating utang Indonesia," katanya.
Ibrahim Assuaibi menambahkan bahwa sentimen negatif dari rencana kebijakan tersebut juga sempat memberikan tekanan pada bursa saham dalam negeri. Penurunan utamanya terjadi pada emiten sektor komoditas yang kemudian ikut mendorong pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Namun, Ibrahim Assuaibi memproyeksikan koreksi harga CPO ini hanya berlangsung sesaat karena kondisi fundamental pasar yang masih kokoh. Nilai jual CPO diperkirakan berpeluang merangkak naik mendekati level MYR 5.000 per ton pada triwulan ketiga tahun 2026.
Faktor pendorong kenaikan tersebut meliputi tren kenaikan harga minyak mentah global, penguatan mata uang dolar Amerika Serikat (AS), serta rencana implementasi program biodiesel B50 di dalam negeri.
"CPO itu sangat terkait dengan minyak mentah. Ketika harga minyak naik, otomatis harga turunannya termasuk CPO juga ikut terdorong," kata Ibrahim.
Penerapan program B50 dinilai akan menyerap pasokan CPO domestik dalam skala besar. Agenda ini diproyeksikan mulai berjalan pada Juli 2026 sebagai bagian dari target pemerintah dalam mewujudkan kemandirian energi nasional.
Mayoritas tambahan hasil produksi kelapa sawit di dalam negeri nantinya diprioritaskan untuk menyuplai kebutuhan bahan bakar industri transportasi darat seperti bus dan truk.
"Kalau B50 berjalan penuh, kebutuhan CPO domestik akan semakin besar sehingga stok ekspor otomatis berkurang. Ini akan menopang harga CPO ke depan," katanya.
Di sisi lain, tingkat permintaan dari negara-negara importir tradisional seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan diprediksi tetap tinggi meskipun volume ekspor dari Indonesia berkurang akibat pemenuhan kebutuhan biodiesel domestik.
Ibrahim Assuaibi menyimpulkan bahwa kombinasi dari apresiasi harga minyak bumi, program B50, dan tingginya permintaan energi global akan menjadi pilar utama penyokong harga CPO jangka menengah.
Walau begitu, pelaku pasar tetap akan memantau realisasi regulasi teknis pemerintah mengenai tata kelola ekspor. Jika eksekusinya dinilai mengganggu tatanan pasar bebas, risiko sentimen negatif terhadap instrumen investasi Indonesia berpeluang membesar.
"Kalau baru sebatas pernyataan, dampaknya masih psikologis. Tetapi kalau sudah masuk tahap teknis dan dianggap menghambat pasar, risikonya bisa lebih besar terhadap pasar modal maupun komoditas," ujar Ibrahim.