Pertumbuhan ROA Bank Tertekan Suku Bunga Tinggi

Pertumbuhan ROA Bank Tertekan Suku Bunga Tinggi

Ekonom PT Bank Tabungan Negara Tbk Myrdal Gunarto menilai, pertumbuhan ROA bank saat ini masih tertekan dari kondisi suku bunga tinggi akibat kenaikan BI Rate.

Sebab suku bunga yang naik, biaya dana (COF) yang dikeluarkan bank untuk menampung surat utang ataupun instrumen investasi jangka pendek jadi lebih mahal. Alhasil, profitabilitas bank pun tertekan.

Selain itu, Myrdal menyebut bank juga semakin berhati-hati menyalurkan kredit karena memperhitungkan tingkat risiko yang masih tinggi. Sebab itu, pendapatan bank dari bunga kredit juga tidak optimal.

Persepsi Pasar terhadap TPIA Mulai Berubah, tapi Risiko Sahamnya Belum Hilang

Masa depan TPIA tidak lagi tergantung pada industri petrokimia global yang masih megap-megap akibat kelebihan pasokan dari China.

Kocok Ulang Portofolio Aset di Tengah Koreksi IHSG dan Rupiah Tembus Rp 18.000

"Tingkat risiko bisnis bank juga meningkat, sehingga banyak bank memindahkan orientasi dananya dari pinjaman, sekarang orientasinya adalah invesment," kata Myrdal saat dihubungi, Senin (8/6/2026).

Menurut Myrdal, pertumbuhan ROA perbankan hingga akhir 2026 masih berpotensi membaik. Namun, hal itu sangat bergantung pada meredanya gejolak ekonomi, terutama dari sentimen global.

Sejalan dengan kondisi industri, bank-bank besar juga masih mencatatkan penurunan ROA, setidaknya sampai kuartal 1-2026.

Misalnya PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) dengan ROA kuartal 1-2026 sebesar 2,00%, turun dari kuartal 1-2025 sebesar 2,40%.

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) juga mencatat ROA di level 4,91% pada kuartal 1-2026. Meski tetap lebih tinggi dari bank lainnya, angka itu terhitung turun dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar 5,2%.

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Heryn bilang, banknya selalu memperhatikan kondisi makro ekonomi, termasuk pelemahan rupiah dan kenaikan BI Rate.

Ia pun optimistis, BCA dapat menggenjot penyaluran kredit di berbagai sektor potensial dengan mempertimbangkan risiko yang ada. Ini dilakukan untuk mendorong profitabilitas bank.

Selain itu, Hera juga menyebut BCA akan memperkuat struktur pendanaan dan meningkatkan pendapatan berbasis komisi alias fee-based income (FBI).

"Ke depan, BCA akan tetap fokus pada pertumbuhan kredit yang prudent dan berkualitas, penguatan dana murah (CASA), pengembangan layanan digital, efisiensi operasional, serta optimalisasi FBI untuk menjaga profitabilitas," kata Hera kepada Kontan, Senin (8/6/2026).

Sementara itu, bank besar lain yang mencatatkan kenaikan ROA di antaranya PT Bank Mandiri Tbk dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk.

Hingga kuartal 1-2026, ROA Bank Mandiri ada di level 3,02%, naik tipis dari 3,00% tahun lalu. Sedangkan, ROA BRI ada di 2,98% naik dari 2,95 pada tahun lalu.

Dari sisi perbankan syariah, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) juga mencatat kenaikan ROA. Corporate Secretary BSI Wisnu Sunandar mengatakan, rasio profitabilitas banknya tetap terjaga didukung oleh kinerja yang meningkat solid.

Wisnu menyebut hingga April 2026, ROA BSI ada di level 2,42%. Lebih tinggi dibanding posisi di April 2025 sebesar 2,30%.

Wisnu bilang, BSI akan terus berupaya menjaga fundamental bisnisnya tetap baik dengan mengoptimalkan aset yang dimiliki. Ia pun memproyeksikan ROA banknya akan tetap terjaga hingga akhir tahun.

Sama seperti BCA, BSI juga akan mengoptimalkan profitabilitas dengan mendorong pembiayaan yang berkualitas, meningkatkan FBI, dan memperkuat porsi CASA dalam pendanaan.

"BSI juga akan mengembangkan ekosistem bisnis syariah dan bullion bank sebagai sumber pertumbuhan bisnis," kata Wisnu.

Artikel terkait

Rekomendasi