Dua Rumah Belanda Lapuk di Tengah Permukiman Cilenggang

Dua Rumah Belanda Lapuk di Tengah Permukiman Cilenggang

Tak banyak yang tahu, di tengah permukiman warga di Cilenggang, Serpong, Kota Tangerang Selatan, berdiri dua rumah tua peninggalan era Hindia Belanda.

Bangunan itu menjadi sisa terakhir kompleks perkebunan kolonial yang dahulu disebut-sebut sebagai pusat perkebunan terbesar di Tangerang Raya.

Suasana dua bangunan berbentuk rumah itu kini tampak sunyi. Cat dindingnya memudar, sebagian atap mulai rusak, sementara rumput liar tumbuh di sekitar halaman bangunan yang perlahan lapuk dimakan usia.

Kompas.com pun mencoba memasuki halaman dari masing-masing bangunan tersebut. Bangunan pertama memiliki tujuh petak ruangan yang dibatasi tembok. Satu petak berukuran paling besar dulunya merupakan ruang makan. Sementara tiga petak lainnya merupakan kamar mandi, dua petak dijadikan kamar tidur, dan satu petak sisanya difungsikan sebagai ruang tamu.

Kondisi bangunan pertama tampak memprihatinkan. Banyak tembok retak, bahkan nyaris terbelah. Jamur tumbuh di sejumlah bagian dinding sehingga menambah kesan menyeramkan pada rumah tua tersebut. Kaca-kaca jendela pecah. Sebagian dinding dan jendela bahkan disangga bambu agar tidak roboh.

Di bagian dalam rumah, rumput liar tumbuh di sela-sela ubin. Sebatang pohon juga tumbuh di dalam bangunan dengan akar yang menjalar hingga tembok. Di halaman sekitar bangunan, tumbuh pohon singkong, pepaya, hingga pisang.

Meski demikian, genteng di atap rumah pertama masih tersusun cukup rapi sehingga bentuk arsitektur khas Belanda masih terlihat jelas meski bangunan nyaris ambruk.

Sementara itu, bangunan kedua berdiri sekitar 10 meter dari rumah pertama. Rumah tua tersebut memiliki enam petak ruangan, terdiri dari satu ruang makan, satu ruang tamu, tiga kamar tidur, dan satu kamar mandi. Namun, kondisi bangunan kedua jauh lebih memprihatinkan dibandingkan yang pertama.

Sebagian besar genteng sudah hilang dan atap bangunan nyaris tidak berbentuk. Bagian jendela dan pintu juga rusak. Kaca-kacanya pecah, sementara daun pintu hilang dimakan rayap. Jamur tumbuh hampir di setiap sudut rumah. Tak hanya itu, pohon besar juga tampak tumbuh di atas tembok rumah. Akarnya menjalar hingga menembus dinding bangunan.

Sulit membayangkan, lokasi yang kini tersembunyi di tengah permukiman warga itu dulunya merupakan pusat aktivitas perkebunan pada masa kolonial Belanda.

Saksi Bisu Kejayaan Perkebunan Kolonial

Sulaiman (62), warga yang selama ini merawat bangunan Belanda itu, mengatakan, kawasan tersebut dulunya dipenuhi rumah-rumah peninggalan Belanda.

"Dulu itu ada lebih dari 100 bangunan Belanda di sini," kata Sulaiman, warga.

Menurut dia, rumah-rumah tersebut merupakan rumah dinas pejabat perkebunan pada masa Hindia Belanda. Salah satu bangunan yang masih tersisa bahkan disebut sebagai rumah demang atau pejabat kepercayaan direksi perkebunan saat itu.

"Demang itu artinya wakil, orang kepercayaan nomor dua dari pihak direksi, mempunyai jabatan tinggi lah demang itu di sini," kata Sulaiman, warga.

Menurut dia, bangunan tersebut sudah ada sejak sebelum 1945, sebelum Indonesia merdeka. Namun, setelah memasuki masa nasionalisasi pada 1949, rumah-rumah itu kemudian ditempati pengelola perkebunan milik pemerintah Indonesia.

"Perusahaan perkebunan termasuk BUMN semuanya, yang tadinya dikuasai oleh Belanda dinasionalisasikan menjadi hak milik pemerintah Indonesia seperti itu," jelas Sulaiman, warga.

Namun, seiring berjalannya waktu, satu per satu bangunan mulai hilang. Ada yang roboh dimakan usia, dipugar, hingga berubah fungsi.

"Dalam perjalanannya sisanya tinggal dua ini lagi," kata Sulaiman, warga.

Menurut Sulaiman, dua bangunan yang tersisa itu masih sempat ditempati hingga 2017 sebelum akhirnya kosong setelah terjadi perubahan pengelolaan perusahaan perkebunan. Sejak saat itu, kondisi bangunan perlahan mulai rusak.

"Rusaknya mulai dari atas, dari genteng. Kalau genteng pecah atau geser enggak diganti, kayunya lama-lama keropos," kata Sulaiman, warga.

Di tengah kondisi bangunan yang semakin memprihatinkan, Sulaiman mengaku tetap berusaha merawat area sekitar rumah tua tersebut seorang diri. Ia rutin membersihkan rumput liar, memangkas tanaman yang tumbuh di atap bangunan, hingga menjaga lingkungan sekitar agar aman dikunjungi warga maupun mahasiswa yang datang untuk penelitian sejarah.

"Kalau datang, saya suka enggak izinkan mereka masuk karena kondisi bangunannya sudah lapuk, khawatir kena," kata Sulaiman, warga.

Seluruh biaya perawatan dilakukan menggunakan uang pribadi Sulaiman. Meskipun menggunakan uang pribadi, Sulaiman tetap ikhlas merawatnya mengingat dua bangunan tersebut memiliki sejarah yang sangat kuat.

"Ya alhamdulillah kalau ada rezeki saya sisihkan. Ikhlas saja," kata Sulaiman, warga.

Bagi dia, bangunan tua tersebut bukan sekadar rumah kosong, melainkan bagian dari sejarah Tangerang Selatan yang perlu dijaga agar tidak hilang ditelan zaman.

"Untuk perkebunan sejarahnya di Tangerang Raya itu hanya di sini satu-satunya," kata Sulaiman, warga.

Artikel terkait

Rekomendasi