BI Catat Rupiah Rp 17.667 per Dolar AS pada 19 Mei 2026

BI Catat Rupiah Rp 17.667 per Dolar AS pada 19 Mei 2026

Bank Indonesia mencatat nilai tukar rupiah berada di level Rp 17.667 per dolar AS pada Senin, 19 Mei 2026. Meski berada di level tersebut, otoritas moneter menilai kondisi mata uang Garuda masih relatif stabil.

Dikutip dari Suara, Bank Indonesia (BI) terus menjaga nilai tukar rupiah agar tetap stabil. Adapun, mata uang Garuda hari ini ditutup di level Rp17.667 per dolar Amerika Serikat (AS).

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyatakan optimisme penguatan rupiah berkat fundamental ekonomi Indonesia yang dinilai masih sangat kuat. Dirinya meyakini mata uang domestik akan tetap terjaga sepanjang tahun.

"Insyaallah ke depan akan lebih baik Indonesia saya kira prospeknya bagus fundamentalnya bagus kita harus ada keyakinan ya tentu saja sebagai umat beragama kita harus yakin bahwa Allah Tuhan yang Maha Kuasa selalu bersama kita yang harus bekerja untuk nasional dan dalam kondisi koalisi ini memang tingkat ketekunan dan kesabaran itu memang sangat diperlukan," ujarnya saat rapat dengan Komisi XI di Gedung DPR, Senin (19/5/2026).

Langkah antisipasi telah disiapkan oleh bank sentral dengan merefleksikan pengelolaan krisis pada masa lalu. Perry mengatakan, BI juga sudah belajar dari krisis yang pernah dialami oleh Indonesia. Salah satunua, saat 1998 dan 2008 yang mana rupiah masih terus stabil dikarenakan fundamental ekonomi Indonesia menguat.

"Kita untuk penguatan lebih lanjut kebijakan monitor untuk stabilitas milik rumah dan inflasi jadi kami sudah menakar itu dari step ke step memang kami dalam dua hari ini akan RDK nanti kami siapkan seperti itu jadi kami plan A ini adalah dua langkah dan seterusnya adalah kami belajar dulu jaman 1997, 1998, 2008," bebernya.

Fluktuasi mata uang domestik juga dilaporkan masih berada dalam batas aman. Dia mengungkapkan bahwa volatilitas rupiah secara year to date saat ini berada di level 5,4 persen. Angka tersebut dinilai masih relatif stabil dan terkendali dibandingkan sejumlah negara lain yang juga mengalami tekanan akibat gejolak global.

"Kami cek tadi itu di dalam year-to-date sekarang, itu adalah 5,4 persen, which is actually itu masih relatif stabil. Lagi-lagi, mandatnya undang-undang stabilitas nilai tukar rupiah. Mari kita berdiskusi mengukur stabilitas, stabilitas bukan level, tapi ada bagaimana naik turunnya," imbuhnya.

Bank sentral melihat adanya potensi penguatan nilai tukar pada paruh kedua tahun ini. Dia menambahkan bahwa rupiah akan diramal menguat apada Juli dan Agustus. Sehingga, mata uang Garuda akan turun ke level Rp 16.900.

BI memproyeksikan nilai tukar rupiah akan menguat ke kisaran Rp 16.200 hingga Rp 16.800 pada sepanjang tahun 2026.

"Karena sekarang Rp 16.900 year to date. Dan pengalaman kami kalau April, Mei, Juni memang tinggi. Nanti kalau Juli, Agustus akan menguat. Sehingga the whole year kami masih meyakini nilai tukar akan di dalam kisaran Rp 16.200- Rp 16.800," tegasnya.

Artikel terkait

Rekomendasi