Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dilaporkan terus mengalami penurunan tajam. Berdasarkan data Bloomberg sekitar pukul 10.45 WIB, mata uang Indonesia tersebut melemah hingga menyentuh angka Rp17.904 per dolar AS.
Kondisi ini menunjukkan pelemahan sebesar 103 poin atau sekitar 0,58 persen. Penguatan dolar AS yang terjadi secara masif membuat posisi nilai tukar rupiah kini semakin mendekati level psikologis Rp18.000, seperti dikutip dari Suara.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengungkapkan bahwa kemerosotan nilai tukar rupiah ini dipengaruhi oleh kombinasi dua faktor eksternal dan domestik. Secara global, ketegangan yang kembali meningkat di kawasan Timur Tengah menjadi pemicu utama.
"Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar AS yang menguat menyusul berita penyerangan terbaru AS ke Iran, memperumit prospek harapan pada perdamaian," katanya.
Selain faktor geopolitik global, tekanan terhadap mata uang Garuda juga diperparah oleh kondisi ekonomi dalam negeri. Lukman Leong menyebutkan bahwa sentimen negatif domestik turut andil mempercepat laju pelemahan nilai tukar.
"Ini mengingat perkembangan seputar Timur Tengah masih penuh dengan ketidakpastian serta sentimen domestik yang masih negatif," tandasnya.
Kondisi internal yang membebani pergerakan rupiah saat ini meliputi pelebaran defisit transaksi berjalan. Di samping itu, laporan mengenai cadangan devisa Indonesia yang kian menipis juga menjadi perhatian para pelaku pasar.
Penguatan dolar AS pada perdagangan pagi ini tidak hanya menekan rupiah, melainkan juga memukul mayoritas mata uang di kawasan Asia lainnya yang kompak bergerak melemah terhadap mata uang utama tersebut.
Won Korea menjadi mata uang dengan koreksi terdalam setelah mencatat pelemahan sebesar 0,49 persen. Selanjutnya, ringgit Malaysia turut mengalami penurunan nilai sebesar 0,24 persen terhadap dolar AS.
Mata uang Asia tenggara lainnya seperti baht Thailand juga melemah 0,23 persen, yang kemudian diikuti oleh peso Filipina sebesar 0,17 persen. Sementara itu, yen Jepang dan yuan China terpantau mengalami koreksi tipis yang masing-masing sebesar 0,05 persen.