Rupiah Anjlok ke Rp 17.668 Per Dolar AS Dipicu Konflik Timur Tengah

Rupiah Anjlok ke Rp 17.668 Per Dolar AS Dipicu Konflik Timur Tengah

Nilai tukar rupiah mengalami penurunan tajam sebesar 1,19% hingga menyentuh angka Rp 17.668 per dolar AS. Kemerosotan ini tercatat sebagai pelemahan intraday paling besar sejak awal September, sekaligus menjadi rekor terendah kedua dalam kurun waktu sepekan terakhir.

Kondisi tersebut menempatkan mata uang Indonesia sebagai salah satu yang berkinerja paling buruk di Asia sepanjang tahun. Rupiah bahkan menghadapi risiko mencatat performa bulanan paling rendah sejak periode 2016.

Gejolak hebat ini bersumber dari meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Serangan drone dilaporkan mengenai aset Uni Emirat Arab (UEA), Arab Saudi melakukan pencegatan serangan udara, serta Iran memperketat pengawasan di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi minyak dunia.

Situasi geopolitik tersebut langsung memicu lonjakan harga minyak mentah global. Dampaknya, arus modal asing berbondong-bondong keluar dari aset-aset berisiko yang ada di negara berkembang.

Bagi Indonesia yang berstatus sebagai negara pengimpor minyak, perkembangan ini menjadi hantaman yang cukup berat. Kenaikan harga energi dipastikan memperbesar tekanan pada defisit transaksi berjalan dan memperkuat kekhawatiran terhadap inflasi domestik.

Di sisi lain, tekanan terhadap mata uang garuda tidak hanya bersumber dari eksternal. Pelaku pasar ikut menyoroti persoalan disiplin fiskal pemerintah, independensi Bank Indonesia (BI), derasnya capital outflow, hingga tata kelola pasar modal pasca penghapusan sejumlah saham dari indeks MSCI.

Pasar saham domestik turut merasakan dampak negatif yang signifikan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dilaporkan merosot lebih dari 4% ke level 6.425,95, yang memperpanjang tren negatif selama lima hari berturut-turut hingga terkoreksi lebih dari 25% secara year to date.

Michael Wan, seorang analis dari MUFG, menjelaskan bahwa mata uang di kawasan Asia saat ini sedang menghadapi tekanan yang berlapis-lapis. Faktor pemicunya meliputi keperkasaan dolar AS, lonjakan yield obligasi AS, serta kenaikan harga energi dunia.

"Negara pengimpor minyak seperti Indonesia menghadapi tekanan ganda, sementara rupiah juga terbebani sentimen domestik," ujarnya.

Sementara itu, indeks dolar AS terus menunjukkan penguatan selama enam sesi perdagangan beruntun dengan total kenaikan melebihi 1,5%. Pada saat yang sama, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun melonjak ke level tertinggi dalam 15 bulan terakhir sehingga memperketat likuiditas global.

Meningkatnya kekhawatiran investor di pasar domestik juga tecermin dari naiknya yield obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun sebesar 5,6 basis poin ke angka 6,765%. Perkembangan ini membuat rapat dewan gubernur BI pada pekan ini menjadi pusat perhatian pasar modal.

Bank sentral Indonesia sendiri telah mempertahankan suku bunga acuan pada level 4,75% selama tujuh bulan terakhir. Namun, kemerosotan rupiah saat ini memicu spekulasi bahwa BI kemungkinan akan mengerek suku bunga demi menjaga stabilitas nilai tukar.

Langkah intervensi sejauh ini terus dijalankan oleh BI di pasar valas. Upaya penyelamatan dilakukan melalui pasar spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), offshore non-deliverable forward (NDF), hingga aksi pembelian obligasi pemerintah di pasar sekunder.

Pelemahan mata uang nyatanya tidak hanya terjadi di dalam negeri, melainkan juga melanda kawasan Asia lainnya. Rupee India mencatatkan rekor paling rendah pada level 96,185 per dolar AS, ringgit Malaysia melemah 0,7%, sedangkan won Korea Selatan dan dolar Taiwan terpantau ikut terkoreksi.

Meski demikian, kombinasi antara sentimen domestik dan faktor eksternal membuat depresiasi nilai tukar rupiah dinilai menjadi yang paling mendalam di antara negara-negara kawasan regional lainnya.

Artikel terkait

Rekomendasi