Mata uang rupiah di pasar spot melemah sebesar 0,18 persen ke level Rp 17.628 per dollar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan hari Senin, 18 Mei 2026. Depresiasi kurs Garuda tersebut terus berlanjut hingga pukul 09.21 WIB hingga tertekan ke posisi Rp 17.661 per dollar AS, sebagaimana dilansir dari Money.
Tekanan terhadap mata uang domestik dipicu oleh sejumlah faktor eksternal, terutama eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah terkait jalur perdagangan Selat Hormuz. Selain itu, penguatan dollar AS sebagai aset aman global dan lonjakan harga minyak mentah dunia ikut memperberat posisi ekonomi dalam negeri yang bergantung pada impor energi.
Pergerakan nilai tukar ini diperkirakan masih akan menghadapi tekanan pelemahan dalam rentang perdagangan harian yang terbatas.
“Untuk rupiah mungkin diperdagangkan besok, hari Senin, kemungkinan melemah di Rp 17.590 sampai Rp 17.660. Ada kemungkinan besar 50 poin mengalami pelemahan,” ujar Ibrahim Assuaibi, Analis mata uang dan komoditas.
Ibrahim menjelaskan bahwa konflik di Selat Hormuz memicu ketidakpastian pasar global, terutama setelah adanya insiden penyitaan kapal milik China oleh Iran di tengah pelaksanaan KTT AS dan China. Situasi tersebut diperparah oleh serangan militer Israel yang masih berlanjut di wilayah Lebanon Selatan dan operasi terhadap kelompok Hamas.
“Masalah Selat Hormuz masih menjadi perhatian. Apalagi pada saat KTT di Tiongkok kemarin, Iran menyita kapal Tiongkok. Artinya ini membuat ketegangan tersendiri,” kata Ibrahim Assuaibi.
Ketegangan tersebut berimbas pada lonjakan harga minyak mentah dunia sepanjang pekan lalu, di mana Brent naik 7,84 persen ke 109,26 dollar AS per barrel dan West Texas Intermediate (WTI) melonjak 10,48 persen ke posisi 105,42 dollar AS per barrel pada penutupan Jumat, 15 Mei 2026. Kenaikan harga ini memberatkan struktur impor minyak Indonesia yang mencapai 1,5 juta barrel dan membutuhkan pasokan valuta asing dalam jumlah besar.
“Harga minyak mentah pun juga akan terus mengalami kenaikan, sehingga berdampak terhadap ekonomi di dalam negeri, terutama adalah tentang masalah impor, selalu saya katakan adalah impor minyak yang begitu besar 1,5 juta per barrel,” papar Ibrahim Assuaibi.
Kebutuhan valuta asing di dalam negeri juga meningkat akibat siklus pembagian dividen perusahaan, pembayaran utang luar negeri yang jatuh tempo, serta aksi sebagian masyarakat yang mengalihkan simpanan ke mata uang asing. Di sisi lain, data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan mencatat posisi utang pemerintah hingga 31 Maret 2026 telah menembus Rp 9.920,42 triliun dengan rasio utang terhadap PDB sebesar 40,75 persen.
Sentimen negatif pasar modal turut diperberat oleh rencana rebalancing indeks FTSE Russell pada Juni 2026 yang akan mendepak saham Indonesia berkategori konsentrasi kepemilikan tinggi. Sikap kehati-hatian investor juga dipengaruhi oleh respons pasar terhadap pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai pelemahan rupiah yang dinilai tidak berdampak pada ekonomi pedesaan.