Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mengalami penurunan tajam hingga menyentuh angka Rp17.666 pada Senin, 18 Mei 2026. Seperti diberitakan oleh Kompas, kemerosotan mata uang Garuda ini memicu kritik keras dari pihak Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) terhadap kinerja Gubernur Bank Indonesia.
Situasi volatilitas keuangan ini mendorong Presiden Prabowo untuk mengambil langkah cepat. Kepala Negara memanggil sejumlah menteri kabinet bersama Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, ke Istana Negara pada Senin sore.
Pertemuan tingkat tinggi di Istana Negara tersebut digelar secara khusus untuk merespons kondisi pelemahan nilai tukar rupiah yang kian mendalam. Dampak negatif dari situasi ekonomi ini ternyata tidak hanya memukul mata uang nasional.
Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG terpantau ikut mengalami tekanan hebat seiring dengan melemahnya posisi rupiah. Di tengah situasi yang kurang menguntungkan ini, Menteri Keuangan Purbaya tetap menyatakan sikap optimistis bahwa perekonomian Indonesia mampu tumbuh kencang.
Tren Penurunan Nilai Tukar Rupiah
Pelemahan yang terjadi pada pertengahan Mei ini menunjukkan tren penurunan yang berlangsung dalam beberapa hari terakhir. Sebelum mencapai level Rp17.666, mata uang Indonesia sempat berada di posisi yang lebih baik.
Berdasarkan data finansial yang dihimpun, nilai tukar rupiah pada 13 Mei 2026 tercatat berada di angka Rp17.496. Sementara itu, satu hari sebelumnya atau pada 12 Mei, posisi mata uang domestik berada di level Rp17.514 per dolar Amerika Serikat.