Rupiah Anjlok ke Rekor Terendah Akibat Konflik Timur Tengah

Rupiah Anjlok ke Rekor Terendah Akibat Konflik Timur Tengah

Nilai tukar rupiah ambles ke rekor terendah sepanjang sejarah terhadap dolar Amerika Serikat akibat penguatan mata uang Negeri Paman Sam dan lonjakan harga energi global pada perdagangan Rabu (3/6/2026).

Pelemahan mata uang Garuda sebesar 0,70 persen ini memperpanjang tren penurunan selama dua hari berturut-turut, seperti dilansir dari Investasi. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah pasar spot ditutup pada level Rp 17.967 per dolar AS dari posisi hari sebelumnya di level Rp 17.839 per dolar AS.

Ketegangan geopolitik di kawasan Teluk menjadi pemicu utama melonjaknya harga minyak dunia hingga lebih dari 1 persen berdasarkan laporan Reuters. Lonjakan harga komoditas ini memberi tekanan besar bagi negara pengimpor energi di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, karena berisiko mempersempit surplus perdagangan dan memicu inflasi.

Kombinasi tekanan eksternal dan domestik ini dinilai menciptakan beban berlapis bagi perekonomian nasional. Kondisi pasar yang fluktuatif juga memicu kekhawatiran terkait ketahanan fiskal Indonesia dalam jangka panjang.

"Pemicu yang paling langsung adalah kenaikan harga minyak, surplus perdagangan April yang hampir habis, pelemahan rupiah ke rekor terendah baru, serta kekhawatiran bahwa posisi fiskal Indonesia akan semakin sulit dipertahankan jika harga energi tetap tinggi," ujar Josua Pardede, Chief Economist PermataBank.

Dampak lanjutan dari pelemahan kurs ini dinilai berpotensi mengganggu stabilitas keuangan domestik jika tidak segera diantisipasi. Investor pasar modal kini mulai memperhatikan pergerakan instrumen investasi lain yang ikut terdampak.

"Kondisi tersebut berpotensi membuat pasar mulai memperhitungkan risiko guncangan kepercayaan yang lebih luas," tambah Josua Pardede, Chief Economist PermataBank.

Situasi tersebut dianalisis dapat terjadi apabila rupiah menembus level psikologis Rp 18.000 per dolar AS yang dibarengi penurunan pasar saham serta kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara. Saat ini pelaku pasar sedang menunggu langkah taktis Bank Indonesia dan pemerintah.

Artikel terkait

Rekomendasi