Nilai tukar rupiah yang melemah tajam hingga menembus kisaran Rp 17.668 per dollar AS memicu spekulasi bahwa Bank Indonesia akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen pada Selasa (19/5/2026).
Langkah penyesuaian BI Rate tersebut diproyeksikan diambil dalam Rapat Dewan Gubernur yang dijadwalkan pada 19-20 Mei 2026 demi menahan tekanan mata uang domestik, sebagaimana dilansir dari Money. Depresiasi ini juga turut menekan Indeks Harga Saham Gabungan yang bergerak volatil.
Risiko investasi di pasar keuangan domestik dinilai meningkat seiring dengan fluktuasi nilai tukar yang terjadi belakangan ini. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta memberikan analisis mengenai respons pelaku pasar terhadap situasi tersebut.
"Market cenderung merespons pergerakan rupiah yang cenderung terdepresiasi tajam hingga menembus kisaran Rp17.668-Rp17.681 per dollar AS. Hal ini menjadi salah satu rekor terendah yang memicu kekhawatiran atas meningkatnya persepsi risiko terhadap pasar aset Indonesia," ujar Nafan.
Tekanan global dituding menjadi faktor utama yang mendasari fluktuasi ini, sehingga intervensi melalui kebijakan moneter dinilai menjadi opsi yang realistis. Kenaikan suku bunga diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi stabilitas pasar saham dalam negeri.
"Melemahnya rupiah ini menyebabkan terjadinya spekulasi kuat di pasar bahwa BI berpeluang besar menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 bps menjadi 5 persen dalam RDG BI yang dijadwalkan berlangsung pada 19-20 Mei 2026," paparnya.
Melalui proyeksi teknikal, IHSG diperkirakan memiliki level support di area 6.387 dan 6.262, sedangkan posisi resistance berada pada kisaran 6.715 dan 6.917. Indikator Relative Strength Index menunjukkan posisi jenuh jual meski volume perdagangan mulai merangkak naik.
"Hal ini dilakukan demi mengintervensi pelemahan Rupiah, dan bila direspons positif bisa menahan kejatuhan indeks lebih dalam," beber dia.
Data perdagangan menunjukkan investor asing membukukan aksi jual bersih senilai Rp 460,34 miliar pada Senin (18/5/2026). Secara tahun berjalan, total net foreign sell telah menyentuh Rp 50,63 triliun dengan pelemahan IHSG mencapai 23,68 persen.
Kondisi pasar saat ini juga tidak terlepas dari pengaruh eksternal, termasuk dinamika politik luar negeri antara Amerika Serikat dan Iran yang belum menemui titik temu diplomasi. Presiden AS Donald Trump dilaporkan menunda rencana aksi militer terhadap Iran.
Sentimen lain yang diantisipasi oleh pelaku pasar adalah perubahan bobot portofolio pada indeks global makro. Proses penyesuaian tersebut diperkirakan bakal memicu volatilitas lanjutan pada perdagangan saham di dalam negeri.
"Pergerakan IHSG pada hari ini juga akan diwarnai oleh sikap antisipatif investor terhadap sentimen rebalancing indeks global seperti MSCI dan FTSE," kata Nafan.
Sejumlah saham dinilai masih prospektif untuk dicermati oleh investor ritel, seperti PT Astra International Tbk (ASII) dengan target harga terdekat di level Rp 6.150. Saham PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) juga direkomendasikan beli dengan target penguatan masing-masing.