Rupiah Berpeluang Menguat Terbatas setelah Alami Tekanan

Rupiah Berpeluang Menguat Terbatas setelah Alami Tekanan

Nilai tukar rupiah berpeluang mengalami penguatan terbatas dalam jangka pendek setelah sempat tertekan pada penutupan perdagangan Selasa (2/6/2026). Dilansir dari Investasi, mata uang domestik tersebut melemah 0,19 persen ke posisi Rp17.839 per dolar Amerika Serikat (AS) dibandingkan hari sebelumnya yang berada di level Rp17.805.

Analis PT Finex Bisnis Solusi Future Brahmantya Himawan menjelaskan bahwa pasar global yang mulai stabil dan masuknya aliran devisa menjadi sentimen positif bagi mata uang Garuda. Selain itu, ekspektasi pasar terhadap perpanjangan gencatan senjata antara AS dan Iran turut meredakan ketidakpastian geopolitik serta menekan harga energi dunia.

Kendati demikian, pergerakan nilai tukar diperkirakan masih fluktuatif pada kuartal III hingga kuartal IV tahun 2026 dalam kisaran Rp18.000 sampai Rp18.500 per dolar AS. Jika angka tersebut terlampaui, rupiah berisiko melemah lebih lanjut menuju level psikologis baru di rentang Rp19.000 hingga Rp20.000 per dolar AS.

"Arah pergerakannya akan sangat bergantung pada kondisi global, terutama kekuatan dolar AS, harga energi, dan arus modal asing ke emerging market," kata Brahmantya kepada Kontan, Senin (1/6/2026) lalu.

Brahmantya menilai kebijakan kewajiban penempatan devisa hasil ekspor sumber daya alam (DHE SDA) di perbankan dalam negeri berdampak positif untuk menambah pasokan valuta asing. Langkah ini memperbesar likuiditas domestik, mengerem larinya modal ke luar negeri, serta memperkuat ruang intervensi Bank Indonesia di pasar uang.

"Jadi meskipun DHE SDA dapat membantu menahan volatilitas, rupiah tetap berpotensi mengalami tekanan jika faktor-faktor eksternal tersebut memburuk," tambahnya.

Terdapat tiga faktor utama yang diprediksi menjadi beban bagi pergerakan mata uang nasional ke depan. Faktor tersebut meliputi kebijakan suku bunga tinggi Federal Reserve yang berkepanjangan, tingginya kebutuhan impor migas Indonesia di tengah fluktuasi harga minyak, serta potensi konflik Timur Tengah yang memicu perpindahan dana ke aset aman.

Artikel terkait

Rekomendasi