Rupiah Sentuh Level Terlemah Sepanjang Sejarah ke Rp 17.667 per Dollar AS

Rupiah Sentuh Level Terlemah Sepanjang Sejarah ke Rp 17.667 per Dollar AS

Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan hingga mencapai level terlemah sepanjang sejarah. Berdasarkan data ekonomi, mata uang Garuda ditutup merosot 13,50 poin atau 0,08 persen ke posisi Rp 17.667 per dollar AS, dikutip dari Money.

Kemerosotan ini memicu kekhawatiran masyarakat mengenai stabilitas ekonomi. Sejumlah pengamat menilai pelemahan terjadi akibat perpaduan tekanan eksternal dan kondisi dalam negeri yang berdampak pada lonjakan harga kebutuhan pokok, energi, hingga stabilitas usaha.

Fluktuasi kurs berisiko mengganggu stabilitas harga pangan nasional karena Indonesia masih bergantung pada impor komoditas seperti kedelai, gandum, dan bawang putih. Ketika rupiah jatuh, biaya pengadaan komoditas tersebut otomatis membengkak.

“Untuk fluktuasi nilai tukar ini akan berpengaruh terhadap stabilitas harga pangan, bervariasi bisa dari 2 sampai 8 persen tergantung jenis makanannya,” ujar Hani Perwitasari selaku Dosen Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM).

Hani menambahkan bahwa komoditas yang tidak memiliki substitusi dan pasokannya terbatas di pasar domestik akan jauh lebih sensitif terhadap perubahan kurs. Selain itu, biaya produksi sektor pertanian dan peternakan ikut merangkak naik karena sebagian input produksi dibeli dari pasar global.

“Kenaikan biaya input pada akhirnya akan meningkatkan total biaya produksi yang harus ditanggung pelaku usaha,” kata Hani.

Suku Bunga The Fed dan Risiko Geopolitik

Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa penguatan dollar AS terjadi di tengah meningkatnya risiko inflasi global akibat lonjakan harga minyak dunia.

“Penguatan dollar AS terjadi karena meningkatnya risiko inflasi yang didorong oleh tingginya harga minyak yang memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve dapat mempertahankan suku bunga tinggi untuk waktu yang lebih lama,” ujar Ibrahim.

Ekspektasi kebijakan bank sentral AS tersebut memicu investor global memindahkan modal mereka ke aset dollar AS yang dinilai lebih aman. Situasi ini diperparah oleh ketegangan politik di Timur Tengah, termasuk serangan drone di wilayah Uni Emirat Arab dan Arab Saudi serta memanasnya hubungan AS-Iran.

Konflik tersebut mengganggu pasokan minyak dunia dan menaikkan harga energi global. Sebagai negara importir minyak, Indonesia harus mengeluarkan lebih banyak dollar AS untuk memenuhi kebutuhan energi domestik.

Ancaman Inflasi Impor bagi Daya Beli

Akademisi Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM Rijadh Djatu Winardi menyebut pelemahan rupiah berpotensi memicu imported inflation. Kondisi ini terjadi ketika harga barang impor dan bahan baku industri mahal, sehingga menaikkan biaya produksi dan harga jual di tingkat konsumen.

“Pelemahan rupiah dapat memicu kenaikan harga kebutuhan pokok, transportasi, dan energi,” ujar Rijadh.

Sektor subsidi energi menjadi salah satu yang paling terbebani karena ketergantungan pada komponen impor. Akibatnya, ruang fiskal negara menjadi semakin terbatas.

“Tekanan kurs menambah beban subsidi energi dan utang luar negeri sehingga mempersempit fleksibilitas fiskal pemerintah,” kata Rijadh.

Sentimen Investor dan Risiko Capital Flight

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira berpendapat bahwa sentimen pasar dan tingkat kepercayaan investor turut memperburuk kondisi rupiah di pasar keuangan.

“Siapa yang mau berinvestasi dalam kondisi ekonomi yang dianggap shaky atau sangat fluktuatif seperti sekarang?” kata Bhima.

Bhima memperingatkan jika tren penurunan ini terus terjadi tanpa adanya intervensi moneter yang kuat, rupiah bisa jatuh lebih dalam ke level yang lebih mengkhawatirkan.

“Kalau hari ini kurs sekitar Rp 17.600 dan pelemahannya rata-rata 0,5 persen per hari, maka pada 9 Juni 2026 rupiah bisa tembus di atas Rp 20.000 per dollar AS,” ujar Bhima.

Ketidakpastian kurs ini membuat pelaku usaha mulai merombak strategi bisnis mereka untuk mengantisipasi penurunan daya beli dan lonjakan inflasi.

“Pelaku usaha pasti melihat pelemahan kurs akan memengaruhi daya beli dan inflasi, sehingga mereka mulai merombak strategi bisnisnya di Indonesia,” katanya.

Situasi ini juga memicu kehati-hatian dalam investasi jangka panjang. Menurut Bhima, ada risiko penundaan ekspansi hingga potensi pemindahan modal ke luar negeri.

“Kalau kondisi kurs terus berubah-ubah seperti sekarang, rencana bisnis investor juga ikut berubah. Akibatnya ada potensi capital flight, investor yang tadinya mau masuk akhirnya batal, sementara industri yang sudah ada bisa menunda ekspansi atau bahkan relokasi,” ucap Bhima.

Sektor Manufaktur Alami Tekanan Biaya

Dampak depresiasi mata uang ini juga dirasakan langsung oleh sektor industri manufaktur. Ketua Bidang Ketenagakerjaan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Bob Azam mengungkapkan bahwa sebagian besar bahan baku industri dalam negeri masih harus didatangkan dari luar negeri.

“Sekitar 70 persen bahan baku sektor manufaktur masih impor. Dalam setahun terakhir rupiah juga sudah terdepresiasi lebih dari 7 persen dan itu langsung memukul biaya produksi,” ujar Bob.

Kondisi ini menempatkan pelaku usaha dalam tekanan berlapis karena naiknya ongkos logistik dan gangguan pasokan global, di tengah daya beli masyarakat yang sedang melemah.

“Dunia usaha sekarang dipaksa melakukan efisiensi dan meningkatkan produktivitas semaksimal mungkin karena kenaikan biaya sudah dua digit, sementara harga jual tidak bisa dinaikkan sembarangan,” katanya.

Bob mengingatkan bahwa jika tekanan operasional ini terus berlanjut tanpa relaksasi, risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) massal mengancam sektor industri padat karya.

Artikel terkait

Rekomendasi