Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat hingga menyentuh level Rp17.537 pada perdagangan Rabu, 13 Mei 2026. Pelemahaan ini dipicu oleh dinamika global seperti konflik Timur Tengah dan kenaikan harga minyak yang menekan mayoritas mata uang dunia.
Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda terkoreksi 0,05 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya di level Rp17.528. Sementara itu, data Refinitiv mencatat rupiah sempat mengawali perdagangan dengan depresiasi 0,06 persen ke posisi Rp17.500 per dolar AS setelah ditutup pada rekor terendah sepanjang masa kemarin.
Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso menjelaskan bahwa pelemahan ini merupakan dampak faktor global yang juga dialami oleh mata uang negara lain seperti won, baht, rupee, dan peso. Selain faktor eksternal, permintaan dolar di dalam negeri turut meningkat akibat musim repatriasi dividen, pembayaran utang luar negeri, dan kebutuhan ibadah haji.
"Nah faktor global, dinamika global ini yang membuat mayoritas mata uang di dunia itu juga melemah, tidak hanya rupiah. Ada Filipina peso, ada Thailand baht, ada India rupee, ada mata uang Afrika Selatan, Chile, Korea won, kira-kira seperti itu ya," kata Ramdan Denny Prakoso, Kepala Departemen Komunikasi BI.
Pihak Bank Indonesia mengeklaim tetap optimistis terhadap penguatan rupiah karena didukung fundamental ekonomi nasional yang solid, termasuk pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 sebesar 5,61 persen. Bank sentral juga memastikan kehadiran di pasar valuta asing maupun pasar NDF di Amerika Serikat untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
"Kami tetap meyakini dengan langkah-langkah yang dilakukan itu rupiah akan stabil dan cenderung menguat. Karena kita meyakini fundamental ekonomi Indonesia itu sangat baik dibandingkan dengan negara-negara yang lain gitu," ujar Ramdan Denny Prakoso, Kepala Departemen Komunikasi BI.
Denny menambahkan bahwa sinergi antara Bank Indonesia dengan kementerian dan lembaga terkait diharapkan mampu mengembalikan stabilitas rupiah dalam waktu dekat.
"Oleh sebab itu memang dengan Bank Indonesia terus berada di pasar dengan tadi ya tujuh langkah strategis Bank Indonesia dalam rangka untuk membuat rupiah itu stabil, kemudian juga kondisi fundamental ekonomi kita juga baik," papar Ramdan Denny Prakoso, Kepala Departemen Komunikasi BI.
Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi untuk memastikan kebijakan moneter dan fiskal berjalan beriringan guna menghadapi gejolak pasar global.
"Tentunya kami meyakini bahwa dengan sinergi bersama BI, Kementerian, dan Lembaga itu mampu nanti membuat rupiah akan stabil dan juga sendiri menguat," tegas Ramdan Denny Prakoso, Kepala Departemen Komunikasi BI.
Gubernur BI Perry Warjiyo sebelumnya telah melaporkan tujuh langkah strategis kepada Presiden Prabowo, yang mencakup penguatan intervensi pasar, pengelolaan arus modal, hingga pembatasan pembelian dolar di pasar domestik. Salah satu langkah konkret adalah menurunkan batas pembelian dolar tanpa dokumen dari 100 ribu dolar menjadi 50 ribu dolar per orang per bulan.
"Cadangan devisa kami lebih, jadi cukup untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah itu," jelas Perry Warjiyo, Gubernur BI.
Bank Indonesia juga mengandalkan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menarik aliran modal masuk guna menambal arus keluar dari Surat Berharga Negara (SBN) dan pasar saham.
"Kami sudah membeli SBN dari pasar sekunder year to date adalah Rp123,1 triliun. Kami akan melakukan koordinasi termasuk nanti Pak Menteri Keuangan bisa melakukan masalah buyback dan segala macam. Koordinasi sangat erat antara fiskal dan moneter," kata Perry Warjiyo, Gubernur BI.
Dalam upaya menjaga sistem keuangan, Bank Indonesia berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mengawasi aktivitas pembelian dolar oleh korporasi besar.
"Yang dulunya 100 ribu dolar per orang per bulan, kita turunkan 50 ribu dolar per orang per bulan. Itu yang kami langsung koordinasi dengan KSSK untuk penguatan," lanjut Perry Warjiyo, Gubernur BI.
Langkah terakhir mencakup penguatan intervensi di pasar offshore serta penempatan pengawas langsung pada bank-bank korporasi yang memiliki aktivitas transaksi dolar tinggi.
"Yang terutama kami lihat bank-bank korporasi yang aktivitas pembelian dolarnya tinggi, kami kirim pengawas ke sana koordinasi dengan Bu Frederika Widyasari Ketua OJK untuk memastikan bagaimana stabilitas sistem keuangan terjaga," ujar Perry Warjiyo, Gubernur BI.