Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memberikan penjelasan terkait kondisi nilai tukar rupiah yang terus tertekan hingga melampaui level Rp 17.400 per dollar Amerika Serikat (AS). Pelemahan ini dipengaruhi oleh dinamika pasar global serta faktor musiman di dalam negeri pada Selasa (5/5/2026).
Berdasarkan data yang dilansir dari Money, mata uang Garuda ditutup melemah 30 poin atau 0,17 persen ke posisi Rp 17.424 per dollar AS pada akhir perdagangan Selasa. Sejak ketegangan geopolitik di Timur Tengah meningkat, BI mencatat total pelemahan rupiah telah mencapai 3,65 persen.
Perry Warjiyo menjelaskan bahwa tekanan terhadap mata uang domestik saat ini dipicu oleh dua penyebab utama. Faktor eksternal meliputi tingginya harga minyak dunia, kenaikan suku bunga AS, serta penguatan dollar AS yang memicu pelarian modal asing.
"Kenapa dalam jangka pendek ini ada tekanan-tekanan nilai tukar? Sebabnya ada dua yaitu ada faktor global dan kemudian pada faktor-faktor musiman," ujar Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia (BI).
Selain sentimen global, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang menyentuh angka 4,47 persen turut memperparah keadaan. Hal ini berdampak langsung pada aliran keluar modal dari pasar negara berkembang.
"Terjadinya pelarian modal dari emerging market termasuk Indonesia," kata Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia (BI).
Dari sisi internal, permintaan terhadap dollar AS mengalami lonjakan signifikan sepanjang periode April hingga Juni. Perry menyebutkan kebutuhan valuta asing tersebut digunakan untuk kepentingan repatriasi dividen hingga kebutuhan ibadah haji.
"April, Mei, Juni ini memang permintaan terhadap dollar-nya tinggi. Ada untuk pembayaran repatriasi dividen, ada pembayaran utang, dan juga untuk jemaah haji," ungkap Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia (BI).
Meskipun sedang tertekan, BI menilai posisi rupiah saat ini berada di bawah nilai wajarnya atau undervalued. Perry optimistis rupiah akan kembali stabil mengingat pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 5,61 persen dengan inflasi yang terkendali.
"Kenapa undervalue? Fundamental kita itu kuat. Pertumbuhan sangat tinggi 5,61 persen, inflasi rendah, kredit juga tumbuh tinggi, cadangan devisa juga kuat. Nah ini adalah fundamental yang menunjukkan mestinya rupiah itu akan stabil dan cenderung menguat," jelas Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia (BI).
Pelemahan mata uang ini juga terjadi secara regional di berbagai negara berkembang lainnya. Berikut adalah data perbandingan pelemahan mata uang sejumlah negara terhadap dollar AS:
| Negara | Persentase Pelemahan |
|---|---|
| Filipina (Peso) | 6,58 persen |
| Thailand (Baht) | 5,04 persen |
| India (Rupee) | 4,32 persen |
| Chile (Peso) | 4,24 persen |
| Korea Selatan (Won) | 2,29 persen |
Bank sentral memastikan akan terus melakukan intervensi di pasar guna menjaga stabilitas nilai tukar agar tetap sesuai dengan fundamental ekonomi. Hal ini dikonfirmasi oleh Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset BI, Erwin Gunawan Hutapea.
BI mengoptimalkan instrumen operasi pasar valuta asing, mulai dari transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder untuk meredam gejolak.
"Langkah ini dilakukan secara konsisten untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah berlanjutnya tekanan global," ujar Erwin Gunawan Hutapea, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset BI.