Nilai tukar rupiah yang menembus level Rp 17.529 per dollar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (12/5/2026) pukul 15.05 WIB dinilai pakar ekonomi masih berada dalam kondisi yang berbeda jauh dengan krisis moneter pada tahun 1998 silam.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memberikan penegasan bahwa situasi saat ini tidak dapat disamakan secara langsung dengan krisis 1998 meskipun kurs menyentuh angka psikologis tinggi. Dilansir dari Money, ketahanan ekonomi Indonesia saat ini didukung oleh cadangan devisa yang kuat dan pengelolaan utang luar negeri yang terjaga.
Data Bank Indonesia (BI) mencatat posisi utang luar negeri berada pada angka 437,9 miliar dollar AS per Februari 2026. Sementara itu, posisi cadangan devisa nasional dilaporkan mencapai 146,2 miliar dollar AS pada April 2026.
"Kami perlu memberikan edukasi bahwa kondisi rupiah saat ini yang berada di atas Rp 17.000 per dollar AS tidak bisa disamakan dengan kondisi saat krisis moneter 1998," ujarnya saat media briefing PIER Economic Review Kuartal 1 2026, Selasa (12/5/2026).
Josua menilai edukasi ini krusial agar masyarakat dan pelaku usaha tidak mengalami kepanikan yang berlebihan di tengah tekanan kurs global. Ia menyarankan agar masyarakat yang tidak bersentuhan langsung dengan valuta asing tetap tenang menghadapi fluktuasi ini.
"Menurutnya, masyarakat yang tidak memiliki eksposur langsung terhadap valuta asing (valas) sebenarnya tidak perlu terlalu khawatir terhadap pelemahan rupiah saat ini. Sementara bagi pelaku usaha yang memiliki eksposur valas, tentu dapat melakukan mitigasi melalui berbagai instrumen lindung nilai," tambahnya.
Pelemahan nilai mata uang Garuda ini diidentifikasi akibat ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah serta proses negosiasi Iran dan AS yang buntu. Faktor eksternal tersebut memicu lonjakan harga minyak mentah yang berdampak signifikan pada stabilitas ekonomi negara-negara berkembang.
"Kedua faktor tersebut terhadap Indonesia relatif lebih besar dibanding beberapa negara lain sehingga transmisi dampaknya terhadap rupiah juga lebih cepat," kata Josua.
Bank Permata memproyeksikan rupiah akan bertahan di kisaran level saat ini dalam jangka pendek, dengan pergerakan masa depan yang bergantung pada eskalasi konflik global. Penurunan harga minyak di bawah 100 dollar AS per barrel diharapkan mampu meredakan tekanan terhadap mata uang domestik.
"Meskipun demikian, masih terdapat faktor domestik yang perlu dijawab pemerintah," tukasnya.
Pada perdagangan Selasa sore, rupiah tercatat melemah 115 poin atau sekitar 0,66 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Sebelumnya pada Senin (4/5/2026), mata uang Indonesia tersebut sempat mencetak rekor di level Rp 17.400 per dollar AS.
Perbedaan signifikan terlihat pada tingkat depresiasi, di mana pada krisis 1998 rupiah anjlok hingga 690 persen dari posisi Rp 2.441 per dollar AS pada Juni 1997. Berdasarkan catatan Harian Kompas, nilai tukar sempat menyentuh Rp 17.000 per dollar AS pada Januari 1998 dan ditutup di level Rp 16.900 pada Juni 1998.