Rupiah Melemah ke Level Rp17.400 Terimbas Konflik Timur Tengah

Rupiah Melemah ke Level Rp17.400 Terimbas Konflik Timur Tengah

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami pelemahan sebesar 0,09 persen ke level Rp17.400 pada pembukaan perdagangan Selasa (5/5/2026). Penurunan mata uang Garuda ini dipicu oleh sentimen negatif pasar terhadap ketegangan geopolitik global yang mengganggu stabilitas ekonomi Asia.

Berdasarkan pantauan data RTI Infokom pada pukul 09.15 WIB sebagaimana dilansir dari Market, rupiah bergerak fluktuatif dengan menyentuh titik tertinggi Rp17.401 dan terendah Rp17.385 per dolar AS. Tren pelemahan ini terpantau selaras dengan mayoritas mata uang di kawasan Asia yang juga tertekan terhadap Greenback.

Kinerja Mata Wang Asia terhadap Dolar AS
Mata UangPersentase Koreksi
Baht Thailand0,46%
Won Korea0,25%
Rupiah Indonesia0,09%
Yuan China0,06%
Dolar Singapura0,05%
Dolar Hong Kong0,03%
Dolar Taiwan+0,11% (Menguat)

Kondisi pasar saat ini telah diantisipasi oleh pengamat pasar uang yang memproyeksikan pergerakan kurs di rentang Rp17.390 hingga Rp17.440. Direktur Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa konflik bersenjata di wilayah Iran dan penutupan Selat Hormuz menjadi faktor utama yang memicu kenaikan harga minyak mentah global.

Situasi tersebut kemudian memicu kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi internasional. Selain itu, hambatan produksi minyak di Eropa Timur akibat berlanjutnya ketegangan antara Ukraina dan Rusia turut memberikan tekanan tambahan bagi pasar domestik dan luar negeri.

Ibrahim juga menyoroti kontraksi pada data PMI Manufaktur Indonesia yang dipengaruhi oleh tingginya biaya energi. Hal ini berdampak langsung pada biaya operasional industri di dalam negeri yang harus menghadapi kenaikan harga bahan baku impor.

"Akibat dari kenaikan harga minyak, membuat impor barang-barang yang cukup mahal, sehingga berdampak terhadap manufaktur," katanya, Senin (4/5/2026).

Tekanan pada sektor manufaktur tersebut mencerminkan kerentanan ekonomi nasional terhadap gejolak harga komoditas global. Peningkatan beban biaya impor akibat melemahnya kurs rupiah diprediksi akan terus menjadi tantangan bagi pelaku usaha dalam beberapa waktu ke depan.

Artikel terkait

Rekomendasi