Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terperosok hingga menyentuh level Rp17.503 pada perdagangan Selasa (12/5/2026) pagi akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan sentimen pasar menjelang pengumuman indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Data Bank Indonesia menunjukkan mata uang Garuda kembali ke teritori Rp17.500 setelah sempat menguat tipis sehari sebelumnya, sementara data Bloomberg mencatat pembukaan di posisi Rp17.479 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi di tengah gejolak Selat Hormuz yang memicu kenaikan harga minyak mentah dunia dan penguatan indeks dolar secara signifikan.
Pengamat ekonomi mata uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa ketegangan di Selat Hormuz tetap memanas meski ada klaim perang telah usai, terutama setelah AS menolak proposal perdamaian Iran yang memicu serangan antar kapal.
"Ketegangan di Selat Hormuz ini masih terus memanas walaupun dianggap bahwa perang ini sudah usai kata Trump (Presiden AS Donald Trump)," kata Ibrahim.
Ia menambahkan keterlibatan Uni Emirat Arab dalam penyerangan kilang minyak di Pulau Lavan mengindikasikan adanya eskalasi yang tidak terekspos secara internasional namun menekan pasar regional.
"Jadi Uni Emirat Arab sampai saat ini pun juga terus melakukan penyerangan, walaupun tidak di-expose secara internasional. Ini mengindikasikan bahwa Uni Emirate Arab pun juga setelah keluar dari negara-negara anggota OPEC (Organization of the Petroleum Exporting Countries) terus melakukan penyerangan, bisa saja di belakangnya itu adalah Amerika," ungkap Ibrahim.
Kondisi internal Indonesia juga menjadi sorotan setelah mencatatkan pertumbuhan ekonomi 5,61 persen pada kuartal I-2026 yang didominasi konsumsi domestik, namun sektor padat karya justru mengalami gelombang PHK terhadap 40 ribu buruh.
"Walaupun pertumbuhan ekonomi di 5,61 (persen) di kuartal pertama cukup tinggi, namun dampak dari kekacauan di Timur Tengah, terutama adalah Selat Hormuz, ini membuat ancaman tersendiri bagi Indonesia," ujar Ibrahim.
Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak Pemerintah dan Bank Indonesia segera mengantisipasi tren pelemahan ini agar tidak melumpuhkan perekonomian nasional lebih dalam.
“Ya tentu saja kita akan meminta kepada pemerintah dan stakeholder yang ada untuk mengantisipasi hal tersebut,” kata Puan di Gedung DPR RI.
Puan menegaskan bahwa pembahasan Kebijakan Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) untuk APBN 2027 akan menjadi instrumen krusial dalam memitigasi dampak pelemahan mata uang.
“Dan pada sidang ke depan ini DPR juga akan masuk dalam pembahasan KEM-PPKF yaitu APBN 2027. Karena itu, itu juga termasuk dalam mengantisipasi APBN dan fiskal yang akan datang,” kata Puan.
Meskipun tekanan ini merupakan fenomena global, Puan mengingatkan perlunya kewaspadaan jangka panjang guna menjaga stabilitas fiskal dan daya tahan ekonomi Indonesia.
“Bagaimana dengan situasi global, ini kan juga bukan hanya Indonesia, ini terkait dengan situasi global. Apa yang akan dilakukan oleh pemerintah termasuk dengan BI, situasi ini jangan sampai pengaruhnya itu nantinya akan membuat Indonesia jadi terpuruk,” kata Puan.
Ia berharap antisipasi dilakukan secara menyeluruh untuk melindungi kepentingan nasional dari guncangan eksternal yang terus berlanjut.
“Jadi harus diantisipasi sejak awal bukan hanya tahun ini tapi juga sampai tahun 2025,” ujar Puan.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menilai meredupnya harapan damai antara AS dan Iran serta tingginya harga komoditas energi masih menjadi faktor utama yang membebani pergerakan nilai tukar.
"Rupiah diperkirakan akan masih berpotensi melemah terhadap dolar AS di tengah meredupnya harapan damai AS-Iran serta harga minyak mentah dunia yang masih tinggi," kata Lukman.
Investor saat ini juga tengah mencermati rilis data penjualan ritel Maret 2026 yang diproyeksikan sedikit meningkat menjadi 6,8 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
"Penjualan ritel diperkirakan sedikit lebih tinggi, (yaitu) 6,8 persen, dibandingkan Februari 6,5 persen," kata Lukman.
Selain faktor fundamental ekonomi, pengumuman MSCI hari ini diprediksi akan menekan indeks saham gabungan melalui potensi penurunan peringkat sejumlah saham berkapitalisasi besar.
"Akan ada saham-saham yang didepak, dan beberapa saham kapitalisasi besar yang di downgrade," ujar Lukman.
| Mata Uang | Persentase Pelemahan |
|---|---|
| Won Korea Selatan | 0,89% |
| Peso Filipina | 0,48% |
| Rupiah Indonesia | 0,37% |
| Baht Thailand | 0,30% |
| Yen Jepang | 0,22% |
| Ringgit Malaysia | 0,21% |
| Dolar Singapura | 0,17% |
| Dolar Taiwan | 0,03% |