Rupiah Melemah Imbas Defisit Anggaran dan Suku Bunga The Fed

Rupiah Melemah Imbas Defisit Anggaran dan Suku Bunga The Fed

Nilai tukar rupiah selama sepekan terakhir mengalami tekanan akibat sentimen domestik terkait prospek anggaran negara serta kebijakan suku bunga tinggi dari bank sentral Amerika Serikat. Kondisi pelemahan mata uang Garuda ini dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap defisit fiskal yang disorot oleh lembaga pemeringkat kredit global.

Sentimen negatif dari dalam negeri muncul karena ketatnya prospek pengeluaran negara, yang dilansir dari Investasi, turut membebani kepercayaan pasar. S&P Global, Moody’s, dan Fitch Rating menjadi lembaga pemeringkat global yang menyoroti risiko defisit anggaran tersebut hingga menekan pergerakan nilai tukar.

Selain itu, lonjakan harga minyak dunia memperbesar biaya impor energi nasional sehingga meningkatkan permintaan dolar AS. Situasi ini berdampak pada tergerusnya surplus neraca perdagangan Indonesia karena pasokan valuta asing di pasar domestik menjadi kian terbatas akibat perlambatan ekspor.

"Pelemahan rupiah beberapa waktu terakhir terjadi bersamaan dengan tekanan di pasar saham dan obligasi, termasuk akibat sentimen MSCI, kekhawatiran terhadap defisit fiskal, dan kenaikan imbal hasil SBN," ujar Ibrahim Assuaibi, Analis Mata Uang pada Jumat (29/5/2026).

Faktor eksternal turut memperparah kondisi ini melalui rilis data ekonomi AS yang mencatatkan pertumbuhan sebesar 1,6 persen, atau turun dari estimasi awal 2 persen. Departemen Tenaga Kerja AS juga melaporkan Klaim Pengangguran Awal melonjak ke angka 215.000 untuk pekan yang berakhir 23 Mei, melebihi prediksi pasar sebesar 211.000.

Di sisi lain, inflasi pengeluaran konsumsi pribadi (PCE utama) AS menyentuh 3,8 persen pada Maret 2026 yang mengindikasikan tingginya tekanan harga. Data makroekonomi ini memperkuat proyeksi investor bahwa Federal Reserve akan mempertahankan tingkat suku bunga acuan yang tinggi dalam periode yang lebih panjang.

"Kebijakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang menahan suku bunganya di level tinggi memicu larinya arus modal asing (capital outflow) dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia," terang Ibrahim Assuaibi, Analis Mata Uang.

Ibrahim memprediksi nilai tukar rupiah dalam sepekan ke depan akan bergerak di rentang Rp17.800 hingga Rp18.100 per dolar AS. Sementara itu, pelaku pasar domestik juga sedang menantikan rilis data inflasi dan perdagangan dalam negeri yang krusial bagi pergerakan pasar ke depan.

Sentimen lain yang dinantikan investor adalah implementasi regulasi baru mengenai Devisa Hasil Ekspor (DHE) serta perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah. Berbagai data ekonomi penting dari Amerika Serikat seperti ISM dan Non-Farm Payrolls (NFP) juga tetap menjadi fokus perhatian pasar.

"Investor juga akan mencermati dimulainya penerapan Peraturan Pemerintah (PP) tentang Devisa Hasil Ekspor (DHE)," ucap Lukman Leong, Chief Analyst Doo Financial Futures.

Lukman Leong memproyeksikan pergerakan kurs rupiah untuk sepekan ke depan berada pada kisaran Rp17.700 sampai Rp18.200 per dolar AS.

Artikel terkait

Rekomendasi