Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami pelemahan hingga menyentuh level Rp17.386 pada pembukaan perdagangan Senin (11/5/2026) pagi. Depresiasi ini dipicu oleh kegagalan negosiasi perdamaian antara Washington dan Teheran serta meningkatnya permintaan terhadap aset aman di pasar global.
Berdasarkan data perdagangan Senin pagi, mata uang Garuda merosot 4 poin atau 0,02 persen dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di angka Rp17.382 per dolar AS. Sementara itu, data Refinitiv menunjukkan rupiah sempat terkoreksi hingga 0,06 persen ke level Rp17.370 per dolar AS pada awal pekan ini.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa tekanan terhadap mata uang domestik selaras dengan penguatan indeks dolar AS (DXY) yang mencapai posisi 98,052. Kondisi tersebut diperparah oleh lonjakan harga minyak mentah dunia akibat ketegangan geopolitik yang belum mereda.
"Rupiah diperkirakan akan melemah seiring dengan menguatnya dolar dan harga minyak mentah dunia menyusul tanda-tanda bahwa pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran menemui jalan buntu," ucap Lukman Leong kepada ANTARA di Jakarta, Senin.
Lukman menambahkan bahwa kebuntuan tersebut terjadi setelah Iran menolak usulan perdamaian dari Washington. Mengutip laporan Sputnik, pihak Teheran menganggap tuntutan yang diajukan Amerika Serikat terlalu berlebihan bagi mereka.
Di sisi lain, Pemerintah Amerika Serikat melalui Presiden Donald Trump menyatakan kekecewaan mendalam atas sikap Teheran. Trump menegaskan bahwa tanggapan yang diberikan oleh pihak Iran tidak memiliki landasan yang dapat diterima untuk melanjutkan proses diplomasi.
"totally unacceptable" tutur Donald Trump, Presiden AS sebagaimana dilansir dari CNBC Indonesia.
Penolakan ini berkaitan dengan syarat yang diajukan Iran, termasuk kompensasi kerugian perang dan kendali penuh atas Selat Hormuz. Meski sempat menawarkan pengalihan stok uranium ke negara ketiga, Iran tetap bersikeras untuk tidak membongkar infrastruktur nuklir miliknya.
Dari sisi domestik, pasar tengah mencermati rilis data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) periode April 2026 oleh Bank Indonesia yang diprediksi menurun ke level 122. Pelemahan keyakinan konsumen ini menjadi perhatian serius mengingat konsumsi rumah tangga adalah penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Hingga akhir perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah diproyeksikan masih akan bergerak fluktuatif. Lukman Leong memprediksi mata uang domestik akan bertahan pada rentang sensitif antara Rp17.300 hingga Rp17.400 per dolar AS.